Tampilkan postingan dengan label Sejarah Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Juli 2013

Membaca Jejak Pergerakan Islam Pasca-Reformasi

Pada awal dekade 90-an Soeharto sebagai pemimpin negara berpenduduk Islam terbesar di dunia mengganti blangkon dengan peci. Berbagai analisis pun bermunculan. Ada yang mengatakan, Pak Harto tengah bersiap jelang pemilu 1992.

Sebagian menilai itu hal yang tak terelakkan bagi tiap manusia yang memasuki usia senja, tetapi ada juga yang berpendapat bahwa ia mulai percaya pada golongan kanan, sehingga bendungan yang selama ini beliau jaga mulai dibuka kerannya. ICMI lahir,  diskusi-diskusi keislaman menemukan geloranya, para tokoh dan aktivis Islam pun percaya bahwa Indonesia siap memasuki abad ke 21 yang sering disebut sebagai abad kebangkitan agama dan spiritualisme.


Tahun 90-an juga ditandai dengan dilonggarkannya peraturan mengenai penggunaan jilbab, dan segera jilbab menjadi tren, terutama di kalangan kampus. Dan dari kampus, tempat paling subur untuk menyemai ide, jilbab segera menyebar ke masyarakat umum. Diperbolehkannya jilbab ini seolah menjadi pertanda bahwa pemerintah memberikan lampu hijau dan jalan kepada wacana-wacana keislaman lainnya. Pelaksanaan ajaran Islam secara kaffah, penerapan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari, hingga keinginan menghidupkan kembali Piagam Jakarta, adalah tema-tema besar yang mulai diwacanakan secara luas dan intens di kampus. Hal-hal yang dulu hanya dibicarakan secara terbatas dan bahkan underground.  Wacana-wacana tersebut menemukan bentuknya dengan lahirnya ormas-ormas Islam yang di kemudian hari di antaranya menjadi partai politik peserta pemilu pasca lengsernya Pak Harto. 

Amat menarik untuk membaca generasi mahasiswa ’90-an dari sudut pandang pergerakan keislaman. Tidak hanya karena pada saat itu gerakan keislaman sedang menemukan momentumnya seiring dengan bergantinya haluan politik Pak Harto, juga karena generasi 90-an lah yang kini menempati posisi-posisi strategis dan mulai menjadi pemain yang menentukan arah bangsa ini. Dengan memahami pergulatan pemikiran mereka pada waktu itu maka akan membantu kita untuk membaca arah pergerakan Islam, sekaligus memberikan evaluasi agar pergerakan Islam (dan bangsa) menuju arah yang benar.  Tentu diperlukan studi yang komprehensif agar evaluasi bisa dilakukan secara akurat dan benar, tetapi setidaknya tulisan ini dimaksudkan untuk mencoba mengawali hal tersebut.

Jejaknya Ada di Sini
Kita mulai penelusuran ini dengan memahami cara pandang mereka terhadap Islam dan bagaimana dengan cara pandang tersebut dilakukanlah usaha-usaha untuk mentransformasikan Islam menjadi sebuah gerakan. Sehingga, apa yang terjadi di kemudian nanti, sebenarnya jejaknya bisa ditelusuri dari sini.

Ada dua cara pandang dalam memahami Islam, dan pada waktu itu hal ini menjadi salah satu issue utama dalam banyak diskusi. Yang pertama adalah memandang Islam secara kontekstual. Islam tidak dipahami sebagai teks yang mati, melainkan dapat didialogkan dengan kondisi-kondisi terkini yang pada pemahaman lebih jauh, akan membawanya menuju pemahaman Islam secara hakekat. Dengan memahami Islam secara kontekstual dan secara hakekat, maka terciptalah ruang yang luas bagi humanisme dan plularisme, sekaligus kesempatan yang lebih besar untuk mentransformasikan Islam sebagai sebuah gerakan.

Salah satu generasi 90-an yang paling cemerlang dalam hal ini adalah Ulil Abshar Abdalla, yang kemudian pada tahun 2001 membidani kelahiran JIL (Jaringan Islam Liberal). Sayangnya, banyak kemudian yang tidak tahan dengan gagasan-gagasan Ulil, bahkan dari kalangan nahdliyin yang nota bene adalah kalangan di mana Ulil berasal. Pemahaman hakekat ini memang memerlukan ketekunan dan kesabaran filosofis yang luar biasa, karena ia tidak cukup hanya dengan mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, tetapi lebih jauh adalah mengetahui mengapa hal ini dibenarkan dan mengapa itu tidak diperbolehkan. Dan bertanya mengapa kepada agama seringkali dianggap sebagai mempertanyakan kebenaran agama (dan Tuhan). Padahal dengan mengerti akan hal itu, kita bisa menjadikan Islam sebagai jawaban terhadap persoalan-persoalan kontemporer, dan meletakkan kembali Islam pada posisinya yang terhormat sebagai pengubah dunia seperti pernah dicontohkan Nabi Muhammad Saw.

Cara pandang kedua dalam memahami Islam adalah memandang Islam secara tekstual. Pemahaman ini  berada dalam keping yang sama dengan mereka yang memahami Islam dengan pendekatan syariati. Berbeda dengan yang pertama yang lebih longgar dalam memahami teks, cara pandang kedua ini lebih ketat dalam memahami teks-teks agama dan berusaha keras mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pemurnian ajaran Islam, melaksanakan Islam secara kaffah, dan pada akhirnya menjadikan syariat Islam sebagai jawaban dari segala persoalan bangsa adalah tema-tema besar yang diusung dengan tingkat moderasi dan strategi yang berbeda-beda.  Politik dengan demikian adalah hal yang niscaya untuk mewujudkannya. Maka lahirlah ormas-ormas Islam baru yang di antaranya kemudian bermertamofosa menjadi partai politik.

Pandangan ini melahirkan pula puritanisme yang pada waktu itu sempat menggejala di kalangan kampus. Satu contoh yang cukup banyak ditemui kala itu adalah adanya keinginan untuk menegakkan pergaulan antara pria dan wanita sesuai  syariat Islam, yang kemudian berlanjut kepada ke luarnya sebagian mahasiswi-mahasiswi dari kampus, dan memilih untuk menikah muda meski tanpa sepengetahuan orang tua. 

Puritanisme membuat dunia mereka terbelah antara dunia yang sesuai dengan syariat Islam dan dunia jahiliyah. Pandangan yang menafsirkan agama secara literal dan bahkan terkadang ahistoris ini pada akhirnya akan membawa kepada radikalisme dengan penumpang gelapnya adalah terorisme. Terorisme yang melanda tanah air semenjak pasca reformasi hingga sekarang ini, sesungguhnya jejaknya bisa dilihat di sini.

Benih-benih Negara Agama
Satu tema besar yang diperjuangkan kelompok ini adalah tegaknya syariat Islam dan khilafah di Indonesia. Hingga kini pun, dalam setiap peristiwa politik yang berujung pada demonstrasi hampir selalu ditemukan adanya spanduk-spanduk yang menyuarakan hal tersebut. Partai politik Islam mengemasnya dalam bahasa yang lebih halus, yakni sebagai sebuah wacana untuk menghidupkan kembali piagam Jakarta. Tetapi kita bisa melihat, bahwa ini adalah sebuah kerangka besar untuk mewujudkan adanya negara agama di Indonesia. Gejala-gejalanya mulai nampak sekarang ini dengan munculnya perda-perda agamis, seperti keharusan bisa baca Qur’an sebagai syarat pegawai negeri, hingga yang terakhir yang agak hebph tetapi konyol adalah adanya aturan tidak boleh mengangkang bagi pembonceng wanita.

Ide mendirikan negara agama sebenarnya perlu dikaji kembali. Apakah benar hal tersebut yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw, ataukah karena dorongan puritanisme. Mengingat, sampai akhir hayatnya, Muhammad tidak pernah mewajibkan umatnya untuk mendirikan negara agama. Apakah mungkin Nabi lupa – tentu saja tidak mungkin, apalagi untuk soal sepenting ini. Pidato terakhir Nabi pun tidaklah menyinggung adanya negara agama, melainkan masalah kemanusiaan dan perdamaian. Bahkan, komunitas yang dibangun Nabi lewat Piagam Madinah pun tidak disebut Beliau sebagai daulah atau negara, melainkan ummah. Kata ummah tidak terbatas pada umat Islam saja, melainkan juga umat-umat di luar Islam. Paham negara agama ini sungguh kontra produktif jika diterapkan di masyarakat majemuk seperti di Indonesia. Terbuka ancaman bagi persatuan bangsa, satu hal yang telah dibangun dengan susah payah oleh pendahulu-pendahulu kita.  

Ulil Amri vs Ulil Albab
Hal lain yang menarik selain cara pandang yang berbeda terhadap teks keislaman, adalah bidang kajian yang digandrungi oleh para aktivis pada waktu itu. Menjadi relevan kiranya dengan peristiwa politik yang terjadi belakangan ini, seperti badai yang melanda Partai Demokrat  yang notabene ketua umumnya dulunya adalah mantan ketua organisasi mahasiswa keislaman terbesar di Indonesia, dan geger impor daging sapi sehingga menyeret ketua umum PKS menjadi tersangka. Relevan karena keduanya adalah contoh para aktivis pergerakan Islam yang jejaknya tengah kita selusuri ini.

Bidang kajian yang digandrungi aktivis pada waktu itu secara sederhana bisa diringkas menjadi 2 bidang, yakni keulil-albab’an dan keulil-amri’an. Ulil albab cocok dengan mahasiswa, intelektual muda yang tengah berkembang dan penuh gagasan serta idealisme. 

Apalagi bagi sebuah pergerakan, kehidupan mahasiswa adalah hal yang paling baik untuk memompa idealisme, sehingga nantinya bila tiba kesempatan untuk menerima tongkat estafet kepemimpinan, maka ia akan siap baik secara intelektual maupun secara ruhaniah. Hal ini telah dicontohkan dengan sangat baik oleh almarhum Nurcholish Madjid, yang semasa menjabat Ketua Umum HMI sering melontarkan gagasan-gagasan segar dan di kemudian hari beliau akhirnya diakui sebagai guru bangsa.

Akan tetapi bidang kajian yang jauh lebih diminati oleh para aktivis ternyata adalah keulil-amrian. Ini berangkat dari kaidah bahwa kamu sekalian adalah pemimpin, baik bagi dirimu atau bagi lingkunganmu. Kaderisasi karenanya banyak ditujukan untuk mencetak pemimpin, dan konsekuensi logisnya tentu adalah masuk ke ranah politik. Tentu tidak salah, tetapi dalam sebuah strategi pergerakan, patut dikhawatirkan ia akan terpeleset jika tidak mempunyai modal spiritual yang cukup dalam mengarungi godaan politk yang besar.

Saya teringat perbincangan saya – waktu itu sekitar tahun 92 – dengan salah seorang tokoh yang cukup berpengaruh di HMI Jawa Bagian Tengah. Waktu itu saya tengah gundah dengan masalah teologi. Kebetulan juga masih hangatnya geger intelektual yang dibuat oleh Cak Nur waktu itu dengan melontarkan gagasan tidak ada tuhan selain tuhan. Apa yang saya risaukan tersebut justru tidak dianggap sebagai bahan diskusi yang lezat, melainkan ditanggapi sebagai topik diskusi yang kurang punya aspek strategis dalam pemberdayaan umat. Sampai sekarang pun bahkan saya masih menyesalinya. Bagaimana mungkin, konsepsi ketuhanan yang paling suci : laa ilaa ha ilallah, yang dengannya para nabi membuat revolusi-revolusi peradaban, hanya dipahami sebatas tidak ada tuhan selain (yang namanya) Allah ? Apalah arti sebuah nama? Tidak ada yang istimewa bila persaksian tersebut hanyalah terbatas pada nama, dan bukan pada esensi.

Dan kini, 20 tahun kemudian kita bisa melihat jejak yang ditinggalkan para aktivis Islam tersebut. Kesalahan strategi pergerakan, membawa dampak yang luar biasa besar. Sekarang yang tersisa hanyalah malu. Tidak perlu melakukan tobat nasional, sebelum mempunyai rasa malu. Tabik !


* Penulis adalah alumni MIPA Undip; pernah menjadi ketua Forum Studi Filsafat Islam Tembalang di Semarang tahun 1994

Kristen di Maroko: Sejarah dan Toleransi Beragama

Maroko sangat dikenal sebagai negeri eksotik di ujung barat dunia Islam. Maroko merupakan salah satu negara kerajaan dengan penduduk mayoritas muslim. Bahkan Pemerintah Kerajaan Maroko hanya mengakui Islam sebagai agama resminya.

Agama Islam di negeri ini dikembangkan dengan menghargai tradisi lokal, seperti yang dilakukan oleh para dai atau wali songo ketika menyebarkan Islam di Nusantara. Maka tak heran jika ada ritual-ritual keagamaan yang mirip dengan keislamaan di Indonesia.

Maroko juga dikenal sebagai negara Arab yang gaul, nuansa Eropanya sangat kuat, tetapi tak kehilangan akar tradisi Arab dan Islam. Kebebasan berpendapat dan tradisi berpikir sangat terbuka di negeri Ibnu Batutah ini. Pemerintah tidak memaksa rakyatnya untuk berpola pikir secara kaku atau seragam. Barangkali salah satunya adalah karena faktor penguasa Maroko saat ini, Raja Muhammad VI, seorang lulusan Eropa yang berpikiran Modern. Ia bertekad untuk memodernkan Maroko, namun tetap melandaskannya kepada ajaran Islam.

Raja yang hampir berusia 50 tahun itu sedang berupaya mempertahankan tradisi keagamaan yang berusia ribuan tahun dengan arus globalisasi. Maka tak heran, jika di negeri bekas jajahan Perancis dan Spanyol ini, simbol-simbol tradisi Islam tetap kelihatan. Aktifitas religius selalu semarak. Aneka ritual tarekat sufi bebas berekspresi. Di tengah kuatnya arus modernisasi dan globalisasi yang berhembus kencang dari Barat. Bahkan kaum wahabi Maroko pun kadang-kadang sering kewalahan untuk mempengaruhi “Islam Tradisional” ini.

Kristen di Maroko

Walaupun Maroko dikenal sebagai negera kerajaan dengan penduduk mayoritas muslim, yaitu 98,7 %. Namun pada tahun 2009 sensus mencatat ada 1,1 % atau 380.000 dari penduduknya beragama Kristen. Untuk mudah mengetahuinya, biasanya mereka itu mempunyai rumah dengan ciri khas yang sering dinamai dengan al Mallah.

Kristen di Maroko telah lama muncul, yaitu sejak masa kerajaan Romawi. Yang dikenal dengan Kristen Babar yang menganut aliran Qibtiyah. Saat penaklukan Islam di Maroko yang dipimpin oleh ‘Uqbah ibn Nafie’ antara tahun 681 dan 683 M. mereka perlahan mulai sembunyi-sembunyi dalam membawa misinya.

Sekitar abad ke 19 dan 20 atau pada masa penjajahan Perancis terhadap Maroko, kaum Kristen mulai berdatangan kembali ke Maroko dengan jumlah yang sangat banyak. Kelompok ini kemudian disebut dengan al aqdam as sauda’ (Pendatang gelap). Mereka ini kebanyakan dari Italia, Spanyol, Perancis, dan bahkan dari Eropa timur. Mayoritas kelompok ini adalah para penganut Kristen Katholik.

Sementara pada tahun 1830 jumlah Kristen-Eropa di Maroko masih sangat sedikit, yaitu hanya berkisar 250 orang dan yang tinggal di kota Tanger sebanyak 220 orang. Jumlah ini melonjak pada tahun 1858 menjadi 700 orang. Kemudian pada tahun 1864 menjadi 1400 orang dan hingga tahun 1910 mencapai 10.000 orang.

Saat ini umat Kristen di Maroko sering mengadakan ritual keagamaannya di dua gereja, yaitu Gereja Romawi Katholik dan Protestan. Mereka mayoritas tinggal di Casablanca dan kota-kota lainnya seperti Rabat, Tanger, Meknes, Marrakech dan Essaouira. Kebanyakan dari mereka adalah berasal dari Eropa yang tinggal sejak awal pejajahan dan ditambah dengan penduuk asli Maroko yang dulunya beragama Islam. Mereka sering melakukan ritual-ritual keagamaannya dengan sembunyi-sembunyi bertempat di gereja khusus yang hanya di ketahui kalangan mereka, dan Mayoritas dari mereka ini menganut ajaran kristen protestan dengan ajaran yang khas.

Toleransi Antar Umat Beragama

Sepanjang sejarah, praktek Tasamuh (toleransi) antar umat beragama di Maroko sangat dikenal dengan baik sejak abad ke 3 sebelum masehi. Sebagaimana Raja Maroko pernah megizinkan kaum Yahudi Israel untuk kembali lagi ke Maroko dan memberikan kesempatan tinggal. Bahkan Raja pun memberikan kesempatan bagi mereka yang ingin mengubah kewarganegaraannya menjadi warga Negara Maroko.

Dalam undang-undang Kerajaan Maroko, Pasal tiga mengatakan, “Setiap warga Negara dijamin dan diberikan kebebasan untuk melaksanakan agamanya masing-masing”. Walaupun demikian, saat ini ada undang-undang baru yaitu al Qanun al Jina’i (hukum pidana) yang melarang warga asli Maroko untuk pindah agama, dari Islam ke agama lain. Kecuali bagi warga maroko yang sudah memeluk ajaran Kristen sejak dulu, dan kini diberikan kesempatan bagi mereka untuk mengamalkan ajarannya secara terang-terangan.

Bahkan saat ini di Maroko ada Majlis al Kanais al Khomsi (Forum perkumpulan lima Gereja), yaitu semacam wadah pertemuan agama-agama Kristen di Maroko yang terdiri dari lima gereja yang berbeda-beda, dan forum perkumpulan ini sangat diakui secara resmi dan dilindungi oleh undang-undang Kerajaan Maroko.

Kaum Sufi Melawan Kolonialisme dan Imperialisme

Oleh Zainal Fanani*
"Kaum sufi seperti bumi, yang diinjak oleh orang saleh maupun pendosa; juga seperti mendung, yang memayungi segala yang ada; seperti air hujan, mengaliri segala sesuatu."
[Al-Junaid Al-Baghdady]
Prolog

Diskursus tasawuf telah menarik banyak perhatian, baik dari kalangan sarjana barat maupun para pemikir muslim sendiri. Keberadaannya seakan menjadikan decak kagum' bagi para pengagungnya sekaligus menjadi bahan cibiran orang yang membencinya. Uniknya, ada sederet model pembacaan yang ditawarkan. Ini penting penulis sebut di sini, supaya nanti bisa nyambung dengan apa yang penulis uraikan. Kalangan Orientalis-meski tidak semuanya-misalnya, dengan teori borrowing and influence (meminjam dan keterpengaruhan) mendaku bahwa tasawuf dalam tradisi Islam hanyalah sekedar proses copy paste dari tradisi di luar Islam (filsafat Yunani, Neo-Platonisme, Hellenisme, dan tasawuf Kristen). Sebagian peneliti Muslim dari kalangan Salafi-Wahabi memandang bahwa tasawuf adalah barang haram, lebih dari itu, seorang sufi dalam pandangan mereka berbanding lurus dengan Kafir-Musyrik. Argumen kelompok terakhir ini berdasarkan pandangan literal (harfiyah), bahwa, dalam Qur'an ataupun Hadis tidak ditemukan kata Tasawuf. Muara dari dua kelompok di atas pada akhirnya adalah sama, yakni ingin menegaskan bahwa dalam Islam tidak ada istilah tasawuf.

Terlepas dari perbedaan cara pandang di atas, sampai saat ini masih ada saja sebagian orang yang mempunyai persepsi bahwa tasawuf adalah penyebab kemunduran umat Islam. Dalam masalah ini penulis tidak dalam keadaan bersepakat  dengan Dr Mahmud Qasim yang menyatakan bahwa tasawuf adalah biang keladi kemunduran dunia Islam, Amir Syakib Arselan yang menilai tasawuf telah menyebabkan kaum Muslim mundur karena ajaran-ajarannya yang mengakibatkan jiwa "melempem", atau akhir-akhir ini dengan Hartono Ahmad Jaiz yang mengarang buku Tasawuf Belutan Iblis. Nah, tulisan ini ingin menjawab tuduhan-tuduhan di atas, dengan menjadikan kajian historis sebagai tolak ukurnya.

Kaum Sufi Sebagai Aktor Revolusi

Nun jauh di sana, adalah As'ad al-Khatib, seorang sejarawan kontemporer yang menekankan untuk menuliskan kembali sejarah tokoh-tokoh sufi dengan menjadikannya sebagai subyek (fa'il) bukan sebagai objek (maf'ul). Diakui ataupun tidak, tasawuf tidaklah terlahir dari ruang yang hampa. Tetapi ia lahir dari perpaduan antara unsur eksoterik dan esoteric sekaligus. Qiro'ah tarikhiyah menemukan relevansinya di sini. As'ad al-Khatib mengajak kita untuk memahami sufisme secara realistis. Karena, hanya dengan cara ini kajian akan terasa lebih komprehensif dan diharapkan akan melampaui kajian islamic studiesnya para orientalis. Oleh karenanya, ia pernah mengkampanyekan gagasannya ini dengan menulis di majalah Turâts al-Arâbi al-Dimisyqiyyah secara panjang lebar tentang kontribusi dan sumbangsih kaum sufi di tengah-tengah masyarakat Arab pada khususnya dan Islam pada umumnya.

Dengan terbitnya tulisan itu ternyata mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan, di antaranya datang dari Prof Dr Muhammad Said Ramadhan al-Buthi, Dr Wahbah Az-Zuhaili, Dr Nuruddin 'Ietr, Dr Muhammad Abd Latif Forfor, Dr Syauqi Abu Khalil, dan Ust.Muhammad Hisyam Burhani. Untuk melanjutkan proyek kanonikalnya ini, al-Khatib akhirnya menyusun sebuah buku yang sistematis dengan judul: al-Buthûlah wa al-Fidâ' Inda al-Sûfiyah: Dirâsah Târîkhiyah.

Syahdan, Ketika zaman pemerintahan Al-Hakam al-Ayyûbi, kebutuhan akan penyucian jiwa seakan sudah tidak bisa terelakkan lagi. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah meruyaknya fitnah-fitnah yang terjadi di tengah masyarakat dan munculnya sekte-sekte keagamaan yang semakin menambah keruh suasana, ditambah dengan ekspansi militer yang dilancarkan tertantara salibis terhadap negara-negara Islam saat itu. Dari sinilah kaum sufi dengan tasawufnya menemukan momentumnya. Jika demikian, maka tidak ada cara lagi selain mengambil jalan tasawuf, atau Ibn Taimiyah lebih suka menyebutnya sebagi suluk.

Di antara tokoh yang mempunyai andil besar dalam hal ini adalah: Aly ibn Husain al-Wâ'idz, Abdullah al-Yuniny, Abu Umar al-Maqdisy al-Hambali (w:607 H), Abu Abbas al-Maqdisy, Abu Thâlib al-Khafîfy al-Abhary (w:624), Hasan ibn Yusuf al-Makzun al-Sanjârî (w:638 H), Abdurrahman al-Jaljûlî (w:543 H), Al-Hajjâj al-Fundulâwy al-Mâliky, Abu Bakar al-Thûsy al-Shûfy (w:492 H), Yahya ibn Yusuf al-Sharsharî (w:656H), Najmuddin al-Kubrâ (w:618 H). Semua tokoh ini adalah representasi dari kaum sufi sejati dan orang yang paling berjasa dalam membentuk akhlak serta suluk masyarakat. Tetapi yang perlu dicatat, bahwa ke-sufiannya bukanlah menjadi penyebab kemunduran umat, tetapi malah menjadi pelecut untuk berjihad melawan tentara Salib yang tidak mengenal rasa humanisme.

Lalu kontribusi apakah yang telah disumbangkan oleh Al-Ghazali (w:505 H)? Benarkah Al-Ghazali termasuk salah satu 'pentolan' sufi yang tidak ikut bertempur dalam perang Salib, sebagaimana tuduhan-tuduhan para kritikusnya? Untuk mengetahui jawabannya, maka dua poin penting pemaparan penulis berikut perlu untuk diperhatikan. Pertama, sosok Al-Ghazali di kalangan umum lebih dikenal sebagai seorang filosof, juris (faqîh), sufi, politikus, dan pakar ilmu sosial. Kedua, Al-Ghazali hidup dalam suasana masyarakat yang sedang carut-marut  dalam segala aspek kehidupan (sosial, politik, agama, adat-etika, dst). Maka, oleh sebab itu, Al-Ghazali melihat cara yang paling cespleng untuk mengembalikan kejayaan Islam adalah dengan cara memperbaiki etika-moral umat Islam itu sendiri, tidak yang lain! Akhirnya, dikaranglah magnum opus-nya yang berjudul Ihya' Ulûm al-Dîn. Karena Al-Ghazali dan pemikirannya yang tertuang dalam Ihya' inilah yang membentuk karakteristik dua panglima perang besar sepanjang sejarah perang salib, yaitu sultan Nuruddin Mahmud Zangki (w:569 H) dan sultan Shalahuddin Al-Ayyubi (w:589).

Membincang revolusi yang pernah diperoleh negara muslim dari kolonialisme Inggris, Perancis, dan Italia di belahan dunia Arab dan Afrika pada umumnya, dan Indonesia secara khusus, tidak bisa dilepaskan dari peranan para tokoh sufi yang mengitarinya. Alkisah, pada saat itu, ribat (pesantren) yang biasanya digunakan sebagai media tranformasi ilmu agama an sich, merangkap sebagai benteng pertahanan laskar jihad yang tidak boleh dipandang sebelah mata oleh kalangan koloni.

Untuk membuktikan tesis di atas, kita bisa melirik misalnya tarekat Sanusiyah di Libia yang didirikan oleh Muhammad Ibn Ali al-Sanusi (w:1859 M), kemudian diteruskan Umar al-Mukhtar (w:1931 M) dan Ahmad Syarif al-Sanusi (w:1933 M) mampu mempecundangi tentara-tentara Italia dari bumi Libia. Raja Abdul Qadir al-Jazâiri (w:1885M) seorang penganut thariqah Qadiriyah tulen dan Syech Muhammad al-Haddad seorang pemimpin thariqah Syâdziliyah berhasil membuat Perancis bertekuk lutut sampai tidak berdaya. Di Sudan ada Muhammad Ahmad al-Mahdi (w:1885H) juga seorang pengikut thariqah Syâdziliyah yang merupakan representasi sufi yang berhasil melepaskan Sudan dari jajahan Inggris.

Para sufi di Mesir pun juga tidak mau ketinggalan, dengan ketokohan Ahmad Arâbi yang sedari kecil terdidik di lingkungan sufi, beserta para sufi-sufi yang lain, seperti Syech Hasan al-Adwa, Syech Muhammad 'Ulaisy (w:1882M), Syech Mahmud al-Syadzili, Syech Mahmud al-Qâyâti, Syech Muhammad Thanthawi (w:1888M) adalah orang-orang yang paling getol menyuarakan isu revolusi Mesir di lingkungan Al-Azhar. Maka, ketika Napoleon Bonaparte menjajah Mesir tahun 1798 M, kelompok sufi-lah yang paling gerah dengan kondisi ini, dan merekalah yang mempunyai ide untuk menyatukan visi dan misi seluruh ulama untuk mengadakan perlawanan terhadap penjajah. Demikian juga di negara-negara Arab yang lain, di Yaman ada Syech Al-Hakîmi (w:1959 M), di Maroko ada Muhammad Ibn Abd Kariem al-Khatthabi (w:1962M), Syech Muhammad Abdullah Hasan (w:1920 M) berjuang di Somalia, Syech 'Utsman Ibn Faudâ (w:1817 M) seorang sufi dan pejuang di Nigeria, dll.

Untuk konteks ke-Indonesiaan, konsep tasawuf dibawa oleh para penyebar Islam dari Hadramaut  yang akhirnya lebih dikenal dengan sebutan Wali Songo. Dari tangan wali songo inilah yang akhirnya menelorkan para sufi selanjutnya. Kontribusi para sufi di Indonesia semakin terasa ketika pertempuran 10 November 1945. Dimana 18 hari sebelum pertempuran itu, Nahdlatul Ulama (NU) menfatwakan resolusi jihad. KH.Hasyim Asy'ary memerintahkan KH.Wahab Hasbullah dan KH. Bisri Syamsuri mengadakan rapat dengan Kiai se-Jawa dan Madura di kantor PB Ansor NU, jalan Bubutan VI/2, 22 oktober 1945. Pada 23 Oktober 1945, atas nama Pengurus Besar NU, Kiai Hasyim mendeklarasikan jihad fi sabilillah.

Resolusi jihad mampu menyulap berbagai pesantren dari tempat pendidikan menjadi markas laskar Sabilillah dan Hisbullah untuk diberangkatkan ke Surabaya. Para kiai dan pendekar tua membentuk barisan non regular Sabilillah yang dikomandani oleh KH.Maskur. Para santri dan pemuda  berjuang dalam barisan pasukan Hisbullah yang dipimpin oleh H.Zainul Arifin. Diantara alumnus kedua laskar yang masyhur ikut bertempur di Surabaya adalah KH Munasir Ali, KH Yusuf Hasyim, KH Baidowi, KH Mukhlas Rawi, KH Sulanam Samsun, KH Amien, KH Anshari, dan KH Adnan Nur.

Epilog

Dari fakta historis ini, maka kita dapat menyimpulkan bahwa tasawuf mempunyai konribusi dan peran yang sangat signifikan dalam membangun peradaban umat manusia. Tuduhan bahwa tasawuf sebagai penyebab sekaligus yang bertanggung jawab atas kemunduran umat Muslim pun akhirnya termentahkan dengan fakta sejarah bahwa banyak di antara para mursyid tarekat dan jamaahnya yang justru berada di garda terdepan dalam melawan kolonialisme. Bukan yang lain! Fakta-fakta seperti inilah yang jarang dituliskan dalam buku-buku sejarah. Adapun tindakan sebagian pimpinan tarekat untuk mengasingkan diri dari keramaian manusia dengan berkhalwat di gunung misalnya, itu hanya khusus untuk mereka saja. Dan hendaknya tidak dipahami sebagai kewajiban kepada yang lain, sebagaimana diterangkan oleh Prof Dr Muhammad Said Ramadlan al-Buthi dalam bukunya Fiqh al-Sirah al-Nabawiyah.

Rabu, 17 Juli 2013

Sejarah Islam akan masuk pelajaran di sekolah Inggris

anak muslimah di sekolah Inggris.
Sekretaris Pendidikan Inggris Michael Gove mengumumkan kurikulum sekolah di Inggris akan direvisi serta memasukkan sejarah Islam dalam pelajaran.

Stasiun televisi Press TV melaporkan, Selasa (16/7), perubahan itu dilakukan setelah muncul perdebatan luas pada rancangan kurikulum sekolah yang tidak memasukkan soal sejarah Islam.

Dewan Muslim Inggris yang mewakili 500 organisasi Islam di negeri itu marah karena rancangan kurikulum sekolah tidak memasukkan sejarah Islam daam salah satu mata pelajaran.

Namun akhirnya kelompok muslim dan Kristen menyambut baik revisi kurikulum itu dan sejarah Islam akan mulai perkenalkan dalam kurikulum sekolah pada 2014.

Ketua Dewan Masjid Lancashire Salim Mulla mengatakan perubahan itu sangat baik dan semua pihak perlu saling memahami kepercayaan masing-masing, terutama Islam yang kini menjadi agama kedua terbesar di Inggris.

"Sudah ada pemahaman baik soal Kristen dalam pelajaran sekolah. Tapi saya tidak yakin umat Kristen paham tentang keyakinan Islam," kata dia.

Juru bicara Dewan Pendidikan Blackburn mengatakan kurikulum itu memang diperlukan untuk mengikuti perkembangan zaman yang bergerak makin cepat.

"Sebagaimana diketahui, sejarah awal peradaban Islam memberikan peran yang cukup luas kepada dunia dan kita harus mendukung pelajaran sejarah semacam itu."

Sabtu, 22 Juni 2013

Syair-syair Hikmah KH Wahid Hasyim (1)

KH Abdul Wahid Hasyim termasuk tokoh yang gemar mencatat. Tak heran, sejumlah pantun dan sajak kesukaannya dalam berbagai bahasa tetap tersimpan rapi hingga sekarang. Beberapa syair hikmah berbahasa Arab berikut adalah sebagain warisan berharga dari ulama dan pahlawan nasional ini.

وَلَا شَيْءٌ يَدُوْمُ فَكُنْ حَدِيْثاً # جَمِيْلَ الذّكْرِ فَالدُّنْيَا حَدِيْثُ
Tak ada satu pun di dunia ini yang kekal. Maka, ukirlah cerita indah sebagai kenangan. Karena dunia memang sebuah cerita

أَلَا لِيَقُلْ مَا شَاءَ مَنْ شَاءَ إِنّماَ # يُلاَمُ الفَتىَ فِيْمَا اسْتَطَاعَ مِنَ اْلأَمْرِ
Ungkapkanlah apa yang ingin diungkapkan. (Jangan ragu) pemuda memang selalu dicemooh lantaran kecakapannya.

ذَرِيْنِيْ أَنَالُ مَا لَا يُناَلُ مِنَ اْلعُلَى # فَصَعْبُ العُلىَ فِي الصَّعْبِ وَالسَّهْلُ فِي السَّهْلِ
تُرِيْدِيْنَ إِدْرَاكَ المَعَالِي رَخِيْصَةً # فَلَا بُدَّ دُوْنَ الشَّهْدِ مِنْ إِبَرِ النَّحْلِ
Biarkan aku meraih kemuliaan yang belum tergapai. Derajat kemuliaan itu mengikuti kadar kemudahan dan kesulitannya. Engkau kerap ingin mendapatkan kemuliaan itu secara murah. Padahal pengambil madu harus merasakan sengatan lebah.

سَتُبْدِيْ لَكَ الأَيَّامُ مَا كُنْتَ جاَهِلاً # وَيَأْتِيْكَ بِاْلأَخْبَارِ مَا لَمْ تُزَوِّدِ
Kelak waktu akan memperlihatkan dirimu sebagai orang yang bodoh, dan membawakan kabar untukmu tentang perbekalan yang kosong.


لَقَدْ غَرَسُوْا حَتَّى أَكَلْناَ وَإِنَّناَ # لَنَغْرَسُوْا حَتَّى يَأْكُلَ النَّاسُ بَعْدَنَا
Para pendahulu telah menanam sehingga kita memakan buahnya. Sekarang kita juga menanam agar generasi mendatang memakan hasilnya.


إِذَا فَاتَنِيْ يَوْمٌ وَلَمْ أَصْطَنِعْ يَدًا # وَلَمْ أَكْتَسِبْ عِلْماً فَمَاذَاكَ مِنْ عُمْرِيْ
    Tatkala waktuku habis tanpa karya dan pengetahuan, lantas apa makna umurku ini?


Mahbib Khoiron
Dikutip dan diterjemah ulang dari
KH A Wahid Hasjim, Mengapa Saya Memilih Nahdlatul Ulama, Bandung: Mizan, 2011

Sumber :
http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,51-id,43322-lang,id-c,hikmah-t,Syair+syair+Hikmah+KH+Wahid+Hasyim++1+-.phpx

Kisah Masjid Dhirar

Ketika Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, beliau merasakan pentingnya membangun rumah ibadah yang dapat digunakan umat Islam bersama-sama. Oleh sebab itu, ditemani para sahabat, Rasulullah membangun masjid pertama dalam sejarah Islam yang kemudian dikenal dengan nama masjid Quba’.

Sebagaimana digambarkan oleh para sejarawan, Masjid Quba’ memiliki arsitektur yang sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari tanah liat, tiang dan atap dari pohon dan pelepah kurma serta hanya berlantaikan tanah. Ketika kaum Muhajirin berniat memugar masjid tersebut Rasulullah menolaknya.

Walaupun secara lahiriah masjid Quba’ sangat sederhana namun Allah menyebut masjid ini sebagai masjid yang dibangun atas dasar ketakwaan sejak awal berdirinya. Sementara orang-orang yang berada di dalamnya adalah orang-orang yang selalu membersihkan diri mereka (QS. Attaubah [9]:  108).

Setelah masjid Quba’ berdiri dan menjadi pusat kegiatan umat Islam mulailah orang-orang munafik merasa tidak tenang atas persaudaraan yang erat di kalangan umat Islam. Mereka lantas membangun masjid Dhirar yang bagus di Madinah untuk memecah belah persaudaraan dan melemahkan persatuan umat Islam.

Allah melukiskan motivasi dibalik didirikannya masjid Dhirar tersebut dalam firman-Nya: “Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang Mukmin) dan karena kekafiran-(nya), dan untuk memecah belah antara orang-orang Mukmin, serta menunggu/mengamat-amati kedatangan orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu.” (QS. At-Taubah [9]: 107).

Mengetahui siasat buruk orang-orang munafik, Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk meruntuhkan masjid tersebut. Kemudian Lokasi bangunan masjid Dhirar dijadikan tempat pembuangan sampah dan bangkai binatang.

Demikian akhir dari masjid yang didirikan atas dasar kemunafikan dan niat yang tidak baik, niat untuk memecah belah umat Islam, melakukan propaganda-propaganda yang memicu permusuhan di antara sesama muslim. (A. Khoiru Anam)
 
Sumber :
http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,51-id,43242-lang,id-c,hikmah-t,Kisah+Masjid+Dhirar-.phpx

Ekspresi Abu Lahab atas Kelahiran Muhammad SAW


Suatu hari, Senin, Tsuwaibah datang kepada tuannya Abu Lahab seraya memberikan kabar tentang kelahiran bayi mungil bernama Muhammad, keponakan barunya. Abu Lahab pun bersuka cita.

Ia melompat-lompat riang gembira seraya meneriakkan kata-kata pujian atas kelahiran keponakannya tersebut sepanjang jalan.

Sebagai bentuk luapan kegembiraan, ia segera mengundang tetangga-tetangga dan para kerabat dekatnya untuk merayakan kelahiran keponakan tercintanya ini: Bayi laki-laki yang mungil, lucu, sempurna.

Tidak cukup sampai di situ. Sebagai penanda suka citanya, ia berkata kepada budaknya Tsuwaibah di hadapan khalayak ramai yang mendatangi undangan perayaan kelahiran keponakannya, ”Wahai Tsuwaibah, sebagai tanda syukurku atas kelahiran keponakanku, anak dari saudara laki-lakiku Abdullah, maka dengan ini kamu adalah lelaki merdeka mulai hari ini.

Demikian dikisahkan dalam kitab Shahih Bukhari. Ini pada hari Senin pada satu tahun yang kemudian dikenal dengan Tahun Gajah.

Kelak Abu Lahab tampil menjadi salah satu musuh Muhammad SAW dalam berdakwah. Bahkan sosoknya yang antagonis dikecam dalam satu surat tersendiri dalam Al-Qur'an. Ia ingkar terhadap risalah kenabian.
Namun karena ekspresi kegembiraannya menyambut kelahiran keponakannya, menurut satu riwayat, Abu Lahab mendapatkan keringanan siksa kubur, yakni pada setiap hari Senin.

Sumber :
http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,51-id,41724-lang,id-c,hikmah-t,Ekspresi+Abu+Lahab+atas+Kelahiran+Muhammad+SAW-.phpx