BERITA NUSANTARA: Konflik Mesir
Tampilkan postingan dengan label Konflik Mesir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konflik Mesir. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Oktober 2013

Mahasiswa Indonesia wisuda di tengah krisis Mesir

Krisis politik di Mesir tidak menghambat mahasiswa Indonesia di Negeri Seribu Menara itu meraih prestasi pendidikan yang ditandai dengan wisuda yang digelar di Gedung Konferensi Internasional Al Azhar, Kairo, Senin (7/10).

Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kairo, Dr. Fahmi Lukman, yang memimpin acara wisuda tersebut menjelaskan, dalam Wisuda ini tercatat 352 mahasiswa, mencakup 260 mahasiswa Indonesia, dan selebihnya dari beberapa negara di antaranya Malaysia, Thailand, Singapura, Nigeria dan Rusia.

"Wisuda ini dikhususkan untuk mahasiswa Indonesia, namun mahasiswa dari beberapa negara sahabat juga ingin bergabung," kata Fahmi Lukman.

Menurut Presiden Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir, Amrizal Batubara, wisuda itu diadakan atas kerja sama PPMI dan KBRI Kairo, serta didukung penuh oleh Univeritas Azhar.

"Syeikh Agung Al Azhar, Prof Dr Ahmed Al Tayeb dan Rektor Universitas Al Azhar Prof Dr Osama Al Abd, dalam pertemuan dengan kami, menyambut baik dan menyatakan dukungannya atas wisuda mahasiswa Indonesia ini," kata Afrizal.

Hadir dalam wisuda tersebut Wakil Syeikh Agung Al Azhar, Prof.Dr.Abbas Syuman, Penasehat Syeikh Agung Al Azhar Urusan Diplomatik, Prof.Dr.Abdel Rahman Mousa, Wakil Rektor Al Azhar Prof Dr Ibrahim Hudhud dan sejumlah dekan termasuk , di samping Dubes RI untuk Mesir Nurfaizi Suwandi.

Dalam sambutannya, Prof Abbas Syuman menyatakan rasa bangganya bahwa mahasiswa Indonesia terus berjuang untuk menamatkan kuliah di tengah gejolak politik Mesir saat ini.

"Kami bangga atas keberhasilan kalian semua. Al Azhar tetap menanti pengganti kalian, mahasisa baru untuk mempelajari ajaran islam hakiki yang berlandaskan teloreansi dan moderat," katanya.

Dubes Nurfaizi memesan kepada wisudawan agar ilmu yang mereka peroleh itu hendaknya diterapkan tidak saja dalam segi keagamaan, tapi juga mencakup pemecahan permasalahan sosial di masyarakat luas.

Para mahasiswa yang wisuda itu dari berbagai wilayah di Indonesia, antara lain Aceh, Maluku Utara, Jakarta, Jawa Barat, Banten, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Kalimantan, dan Nusa Tenggara Barat.

Ulfiah Nur Faiqoh, mahasiswi lulusan S1 asal Jawa Tengah yang meraih nilai Istimewa, dalam sambutan mewakili wisudawan mengemukakan bahwa wisuda ini merupakan awal dari perjalanan panjang untuk menerapkan ilmu yang diperoleh dari Al Azhar dengan penuh toleransi dan bersikap moderat.

Sebagian mahasiswa lulusan S1 ingin melanjutkan S2 di Mesir, dan sebagian lainnya melanjutkan di Indonesia.

"Saya cukup S1 di Universitas Al Azhar, dan S2 saya melanjutkannya di Indonesia," ujar Ulya Ifsantin, mahasiswi asal Jakarta, begitu pula Ridha Ammita, mahasiswi dari Tangerang, Banten. 

Kamis, 19 September 2013

Satu polisi Mesir tewas saat bentrok dengan kelompok bersenjata

Polisi Mesir.
Sedikitnya satu polisi Mesir terbunuh pagi tadi saat sebuah operasi digelar terhadap kelompok bersenjata di Distrik Kerdasah, di pinggiran Ibu Kota Kairo.

Pasukan keamanan terlibat baku tembak dan menembakkan gas air mata di saat mereka menyerbu wilayah itu untuk menangkap orang-orang yang dituduh telah membakar kantor polisi dan membunuh sebelas petugas keamanan pada akhir Agustus lalu, seperti dilansir stasiun televisi Al Arabiya, Kamis (19/9).

Situasi di distrik Kairo telah meningkat sejak militer menggulingkan mantan Presiden Muhammad Mursi pada 3 Juli lalu. Anggota kepolisian telah dilarang untuk memasuki Kerdasah sejak saat itu.

Stasiun televisi pemerintah menyatakan satu petugas kepolisian lainnya juga terluka. Selain itu dikatakan pasukan keamanan berhasil mengambil alih kontrol atas wilayah itu dan memberlakukan jam malam.

Penggulingan Mursi dipicu oleh demonstrasi massal yang membuat timbulnya protes nasional. Bentrokan antara pihak kepolisian dan pendukung Mursi melibatkan sejumlah penyerangan pada beberapa kantor polisi, anggota polisi, dan juga beberapa gereja.

Setidaknya seribu orang tewas dalam kekerasan itu. Sebagian besar korban tewas terjadi dalam peristiwa pembubaran dua aksi duduk pendukung Mursi di sekitar Kairo pada 14 Agustus lalu. Sekitar seratus polisi juga dilaporkan tewas dalam bentrok itu.

Selain itu, hampir 2.000 pegiat dari kelompok Islam dan politisi yang dekat dengan Ikhwanul Muslimin juga ditangkap sejak penggulingan Mursi.

Kerdasah adalah kota yang terkenal karena produksi kain-kain mewah dan juga basis kuat bagi kelompok Islam. Kerdasah terletak 14 kilometer dari Kairo.

Minggu, 18 Agustus 2013

AU Thailand Kerahkan 2 Pesawat Angkut ke Mesir

Pasukan militer Mesir melemparkan gas air mata ke arah pendukung Presiden Mursi di Kairo,
Angkatan Udara Kerajaan Thailand mengirimkan dua pesawat angkut C-130 bersama tim medis dan perwakilan dari Kementerian Luar Negeri ke Dubai untuk membantu mengevakuasi warga Thailand dari Mesir. Hal ini diungkapkan Juru bicara Angkatan Udara, AVM Monthon Satchukorn.

Seperti dilaporkan kantor berita TNA, Ahad (18/8) kedua pesawat itu ditetapkan untuk berangkat dari Bandara Don Mueang ibu kota pada Ahad siang.

Kedua penerbangan, memerlukan waktu sekitar 10 jam untuk mencapai Dubai, diharapkan menerima 220 penumpang (110 penumpang per pesawat) dan tiba di Bangkok pada 14.30 Senin.

AVM Monthon mengatakan, Angkatan Udara akan mengirim dua pesawat C-130 lain untuk mengambil lebih banyak penumpang Senin.

Wakil Direktur Jenderal Urusan Informasi Kementerian Luar Negeri Jakkrit Srivali mengatakan, sekitar 900 warga Thailand di Mesir sekarang berusaha untuk meninggalkan ibu kota Kairo.

Dua penerbangan pukul 17.00 dan 20.00 waktu setempat siap untuk membawa sejumlah warga Thailand (masing-masing 344 dan 317 penumpang) dari Kairo ke Dubai di Uni Emirat Arab.
Para penumpang akan melakukan perjalanan dari Dubai kembali ke Thailand dengan pesawat angkut C-130 dan penerbangan carter Thai Airways International (THAI).

Sementara itu, Wakil Perdana Menteri/Menteri Luar Negeri Surapong Tovichakchaikul mengatakan keluarga-keluarga Thailand di Mesir dapat menghubungi pelayanannya selama 24 jam pada 0-2-643-5107 untuk mendapatkan informasi terakhir situasi terkait.

Lima Roket Hantam Lebanon Timur

Peta Lebanon.
Lima roket mendarat di dan sekitar kota Hermel, sebuah pangkalan Hizbullah di Lebanon timur, Ahad (19/8), kata satu sumber keamanan kepada AFP.

"Dua roket mendarat di kota Hermel di sebuah daerah antara perhimpunan mengajar Mabarrat dan wilayah Masharia al-Qaa, namun tidak ada korban," kata sumber yang tidak bersedia disebutkan namanya itu. "Tiga roket lagi mendarat di daerah-daerah pinggiran Hermel," tambahnya.

Belum jelas apakah roket-roket itu diluncurkan dari dalam wilayah Lebanon atau dari seberang perbatasan di Suriah yang dilanda perang, kata sumber itu.

Hermel dan daerah-daerah lain di Lebanon timur, yang menjadi pangkalan kelompok Hizbullah, diserang sejumlah roket dari Suriah dalam beberapa bulan ini.

"Orang-orang ketakutan. Tidak ada yang tahu bagaimana perkembangannya. Tidak ada yang tenang di daerah Hermel," kata Ali Shamas, seorang warga Hermel.

Ketegangan meningkat di Lebanon terkait konflik Suriah, setelah Hizbullah mengumumkan dukungannya dan mengirim pasukan untuk membantu Presiden Bashar al-Assad menumpas pemberontak Suriah.

Meski Lebanon secara resmi netral dalam perang di Suriah, negara itu terpecah antara pendukung Assad dan pendukung pemberontak Suriah.

Soal Mesir, Komnas HAM Minta Pemerintah Bersikap Tegas

Jasad demonstran pendukung presiden terguling Mesir, Muhammad Mursi, diletakkan di lantai di rumah sakit darurat di dekat Masjid Rabaa Adawiya, Kairo
Komnas HAM meminta pemerintah Indonesia agar bersikap tegas terkait dengan kondisi Mesir saat ini. Hal tersebut diungkapkan Ketua Sub Komisi Pemantauan dan Penyelidikan Pelanggaran HAM Natalius Pigai Ahad (18/8).

"Komnas Ham RI meminta Pemerintah Republik Indonesia harus bersikap tegas terhadap kekerasan militer yang terjadi di Mesir," kata Natalius Pigai dalam pesan singkatnya kepada Republika.

Menurut Natalius tindakan militer Mesir pada kelompok pendukung Presiden Mesir terkudeta Muhammad Mursi bertentangan dengan demokrasi dan Hak Asasi Manusia (HAM). Disamping itu, kudeta miter tersebut menunjukkan sikap anti demokrasi karena dunia telah melihat Ikhwanul Muslimin memenangkan pemilu di Mesir dan menjadikan Muhammad Musry sebagai presiden.

"Alasan Militer Mesir bahwa penggulingan Mursi dianggap sebagai sikap demokrasi karena tidak mau berkoalisi atau rekonsiliasi dengan kelompok lain  tidak dapat dibenarkan," ujarnya.

Ia juga mengatakan kekerasan dan kekejaman militer Mesir yang mengakibatkan ratusan bahkan ribuan orang tewas. Hal ini, kata dia,  bertentangan dengan Deklarasi Universal PBB tentang Hak Sipil dan Politik (ICCPR).

Oleh karena itu, lanjut Natalius, Indonesia sebagai negara pihak yg menandatangi Konvensi PBB tentang ICCPR  harus bersikap tegas terhadap kekejaman militer Mesir yang secara sengaja membungkam kebebasan ekpresi rakyat dengan melakukan penganiayaan, penyiksaan, serta pembunuhan terhadap para demonstran pendukung Mursi.

Lebih lanjut, Natalius menilai,  pemerintah Indonesia selalu berdiam diri bila kekejaman dan jeritan kemanusiaan yang dihadapi oleh rakyat di belahan dunia lain. Ia mencontohkan pembunuhan etnis Rohignya beberapa waktu lalu dimana sikap Indonesia justru bungkam.

"Hal tersebut menunjukkan Indonesia tidak respek dan proteksi terhahap hak asasi manusia sebagai anggota PBB," ujarnya.

Saudi dan Tiga Negara Teluk Dukung Pembantaian di Mesir?

Pemimpin arab, raja abdullah
Pemimpin Saudi Raja Abdullah meminta bangsa Arab untuk bersama melawan upaya mendestabilisasi Mesir. Raja Saudi tersebut pun mendukung kepemimpinan militer dan upaya militer yang membantai pendukung Presiden Mesir terguling Muhammad Mursi.

"Kerajaan Saudi Arabia, rakyat dan pemerintahnya berdiri hari ini dengan saudara dari Mesir untuk melawan aksi terorisme,"katanya dalam pernyataan resmi di stasiun televisi pada Jumat (16/8) waktu setempat, seperti dikutip Aljazeera.

Raja Saudi mengimbau agar rakyat Mesir dan negara-negara Muslim untuk berdiri satu hati dalam menghadapi gerakan untuk mendestabilisasi negara yang terbesar di Arab dan memiliki sejarah yang panjang. Dia pun menyatakan, optimistis kalau Mesir akan segera pulih. 

Arab Saudi dikenal dekat dengan mantan presiden Husni Mubarak sementara memiliki hubungan buruk dengan Ikhwanul Muslimin. Dia pun meminjamkan uang 5 miliar dolar untuk membantu  Mesir usai Muhammad Mursi didongkel dari jabatannya sebagai presiden pada bulan lalu. 

"Arab Saudi berdiri dengan saudara di Mesir untuk melawan terorisme, penyimpangan dan penghasutan. Terhadap orang-orang yang mencoba ikut campur terhadap urusan internal Mesir dan hak yang sah dalam menghalangi mereka untuk merusak rakyatnya,"ujarnya.

Tidak hanya Saudi, tiga negara teluk juga mendukung pembantaian oleh militer Mesir yang hari ini masih berlangsung. Negara seperti Uni Emirat Arab dan Bahrain telah menyuarakan dukungannya untuk pembantaian terhadap pendukung Mursi dan mengatakan, itu adalah tugas negara untuk menstabilisasi.

Bersama Kuwait, mereka menyambut kudeta yang dilakukan militer terhadap Mursi. Presiden yang terpilih secara demokratis pertama kali sejak kejatuhan rezim Mubarak.

Penguasa Mesir kecam Obama

Sebuah buldoser membersihkan puing di lokasi kemah aksi protes di sekeliling masjid Rabaa Adawiya di Kairo, Kamis (15/8).
Kepresidenan  Mesir pada Jumat mengemukakan kekhawatiran bahwa kecaman Presiden Amerika Serikat Barack Obama terhadap tindakan aparat dapat "mendorong aksi kekerasan kelompok-kelompok bersenjata".

"Kepresidenan khawatir pernyataan-pernyataan itu tidak didasarkan pada fakta-fakta dan dapat mendorong aksi kekerasan kelompok-kelompok bersenjata," ungkap pernyataan kepresidenan.

Pernyataan itu disampaikan menanggapi kecaman Obama terhadap aksi pada  hari Rabu ketika polisi bergerak membubarkan kamp-kamp demonstran.

Kepresidenan Mesir dalam pernyataannya juga menghargai kekhawatiran AS atas perkembangan-perkembangan di Mesir.

"Tetapi kami ingin  hal itu seharusnya sudah diklarifikasi dulu," kata pernyataan kepresidenan yang dipublikasikan kantor berita MENA.

"Mesir sedang menghadapi tindakan-tindakan teroris yang ditujukan pada institusi-institusi pemerintah dan instalasi-instalasi penting," kata pernyataan itu.

Obama, Kamis mengatakan ia membatalkan pelatihan militer gabungan dengan Mesir, dan menambahkan ia "mengutuk keras" operasi keamanan yang telah menewaskan lebih dari 300 orang di kamp-kamp protes Kairo.