Tampilkan postingan dengan label Militer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Militer. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Oktober 2013

Mega Skandal Spionase AS

Seharusnya Rabu malam waktu Washington, Gedung Putih mengadakan jamuan makan malam tamu kehormatan negara. Namun gagal lantaran tamunya jengkel dan memutuskan membatalkan pertemuan tersebut.

Dia adalah Presiden Brasil Dilma Rousseff yang secara pribadi murka pada Barack Obama. Rousseff adalah salah satu korban penyadapan intelijen AS, NSA, yang dibongkar Snowden yang saat ini berlindung di Rusia.

Alasan AS menyadap demi menanggulangi terorisme, dimentahkan para pejabat Brasil. Sekutu terdekat AS di Amerika Selatan ini mengatakan bahwa penyadapan dilakukan untuk mengeruk keuntungan, demi kepentingan spionase komersial dan industri.

Presiden Brasil Dilma Rousseff batalkan makan malam dengan Barack Obama, kecewa karena disadap
Rabu lalu juga, Obama dihantam protes serupa dari sekutunya di Eropa, Jerman. Kanselir Jerman Angela Merkel meneleponnya, marah percakapan teleponnya disadap. Informasi ini diperoleh Merkel dari majalah Der Spiegel.

Angela Merkel mengatakan tidak bisa menerimaa tindakan AS yang menyadap telepon selulernya dan berencana segera menemui Obama, untuk meminta penjelasan.

Merkel punya pengalaman kelam soal dimata-matai. Dia lahir tahun 1954 di Hamburg, Jerman Timur, saat polisi polisi rahasia NAZI atau Stasi menguntit keseharian warganya. Tidak heran Merkel murka.

Pembelaan juru bicara Gedung Putih Jay Carney juga terlihat ambigu. Kepada media dia mengatakan, NSA (Badan Keamanan Nasional AS) “Sekarang tidak sedang mengawasi dan tidak akan mengawasi telepon Merkel.”

Carney menggunakan kata kerja “sekarang.” Dia tidak mampu menjelaskan apakah sebelumnya AS pernah menyadap Merkel atau tidak. NSA pun makin terpojok.

Dua hari sebelumnya pada Senin, Snowden kembali buat ulah membocorkan penyadapan AS terhadap Prancis, negara sahabat lainnya di Eropa. Harian Le Monde menuliskan, NSA memantau 70,3 juta percakapan telepon di Paris, hanya dalam kurun 30 hari, antara 10 Desember 2012 sampai 8 Januari 2013.

NSA, lanjut Le Monde, juga kemungkinan menyadap jutaan SMS di Prancis. Tidak jelas apakah percakapan dan SMS yang disadap itu disimpan secara utuh, atau hanya berupa metadata – yaitu hanya daftar siapa berbicara dengan siapa.

Tidak dijelaskan juga apakah operasi penyadapan bernama sandi US-985D itu masih terus berlangsung atau sudah dihentikan. Laporan itulah yang membuat Menlu Fabius awal pekan ini memanggil Dubes AS untuk Prancis. Dia menuntut Dubes AS itu memberi klarifikasi atas kabar di media massa itu.

Beberapa hari sebelumnya, Meksiko juga marah besar pada Amerika. NSA dilaporkan menyadap Presiden Enrique Pena Nieto dan pendahulunya, Felipe Calderon. Tidak hanya itu, Amerika juga dituduh menyadap PBB dan Uni Eropa.

Pemimpin 35 Negara

Di bawah perlindungan Rusia, nyanyian Snowden akan mega skandal penyandapan AS semakin tidak terbendung. Jumat lalu, The Guardian -mitra media Snowden- mengungkapkan bocoran dokumen yang menunjukkan bahwa AS telah menyadap telepon puluhan kepala negara di seluruh dunia.

Kanselir Jerman Angela Merkel (REUTERS/Fabrizio Bensch)
Hal ini dibuktikan dalam dokumen soal memo rahasia dari Direktorat Sinyal Intelijen (SID) di NSA untuk berbagai instansi yang mereka sebut “pelanggan”. Beberapa di antara instansi ini adalah Gedung Putih, Kementerian Luar Negeri dan Pentagon.

Dalam memo itu, SID meminta para pejabat tinggi di instansi AS memberikan informasi nomor telepon para petinggi politik dan pengusaha di berbagai negara.

Terkumpullah 200 nomor, termasuk di dalamnya ada 35 nomor kepala negara.Tidak disebutkan pemimpin mana saja yang disadap, namun NSA disebut langsung melakukan operasi intelijen.

Dilihat dari memo tertanggal Oktober 2006 itu, ini bukan kali pertama SID meminta bantuan pejabat negara, melainkan operasi rutin. Judul memo itu, “Pelanggan Bisa Membantu SID Mendapatkan Nomor Telepon Target”. Dalam pembuka memo, dikatakan bahwa para pejabat yang dekat dengan para pemimpin dan politisi dunia bisa membantu operasi mata-mata.

Memo dikirimkan pada pertengahan periode kedua George Bush, saat Condoleezza Rice menjabat Menteri Luar Negeri dan Donald Rumsfeld di akhir masa jabatannya sebagai Menteri Pertahanan.

Dalam KTT Eropa di Brussels yang seyogyanya membicarakan masalah ekonomi, Jerman dan Prancis menyampaikan uneg-uneg mereka. Mereka mengatakan kepercayaan Eropa terhadap AS hampir sirna dan harus kembali dibangun.

“Memata-matai sahabat itu tidak benar. Sekarang kepercayaan harus kembali dibangun,” kata Merkel, Kamis waktu setempat, yang menuntut aksi nyata, bukan hanya ucapan maaf dari Obama.
Jerman dan Prancis kompak menuntut AS membuat kesepakatan paling lambat akhir tahun ini untuk tidak lagi memata-matai mereka. Hal ini diamini oleh ke-28 pemimpin Uni Eropa. Sebenarnya gagasan ini pertama kali diangkat Merkel saat Obama mengunjungi Berlin Juni lalu, namun tidak terealisasi.

“Persahabatan dan kemitraan antara Eropa, termasuk Jerman, dengan Amerika bukanlah satu arah saja. AS perlu juga bersahabat dengan dunia,” kata Merkel.

Kesepakatan semacam ini telah dibuat AS dengan Inggris, Australia, Selandia Baru dan Kanada. Kelima negara memiliki aliansi yang dikenal dengan “Lima Mata”, terbentuk sejak akhir Perang Dunia II.

Lebih Parah dari Wikileaks

Akibat penyadapan ini persahabatan AS dengan berbagai negara yang telah terjalin bertahun-tahun terancam. Kebijakan luar negeri AS yang dirancang sedemikian rupa juga jadi di ujung tanduk. AS diprediksi merugi.

Dalam KTT kemarin, mega skandal penyadapan AS membuat negara-negara Eropa tidak ragu-ragu lagi mendukung pengetatan undang-undang perlindungan data tahun 1995. Dalam peraturan baru nanti, perusahaan-perusahaan seperti Google dan Facebook dilarang membagi data mereka dengan negara non-Eropa.

Peraturan ini juga memberikan hak bagi warga Eropa untuk meminta agar jejak digital mereka dihapus. Ada denda 100 juta euro bagi perusahaan yang melanggar.

AS khawatir Jerman dan Prancis semakin gigih mendorong peraturan ini, pasca terungkapnya penyadapan. Pasalnya jika peraturan ini diterapkan, maka ongkos penanganan data di Eropa akan meroket. Perusahaan seperti Google, Yahoo! Microsoft dan yang lainnya tengah giat melobi pemerintah.

Kerugian diplomatis dan finansial ini membuat dampak bocoran Snowden lebih besar ketimbang bocoran kabel diplomatik oleh Bradley Manning di Wikileaks. Hal ini sempat diungkapkan oleh mantan juru bicara Kementerian Luar Negeri AS P.J. Crowley dalam akun Twitternya.

“Semakin jelas saja, walaupun besarnya skala #WikiLeaks, bocoran #Snowden menyebabkan lebih banyak kerusakan publik,” tulis Crowley.

Menurut Slate.com, bocoran WikiLeaks memang memberi dampak buruk terhadap situasi politik di beberapa negara. Salah satunya soal kecurangan pemilu Peru, korupsi pejabat India dan gaya hidup keluarga Ben Ali yang berperan pada awal-awal revolusi di Tunisia.

Kendati mencengangkan, namun bocoran kabel di WikiLeaks dibuat oleh para diplomat dan tidak mencerminkan kebijakan luar negeri AS yang menjadi rahasia. Bahkan, para pejabat Kemlu AS mengakui bahwa terungkapnya kabel itu “memalukan tapi tidak merusak”. (eh/viva.co.id)

Sumber : Jakarta Greater

Sabtu, 26 Oktober 2013

Jepang pun Butuh Panser Kanon

Prototype Panser Canon 105 mm Jepang yang juga mengusung senjata mesin 7,62mm co-axial yang dikendalikan oleh komputer (photo: Kyodo/PA)
Lembaga riset dan pembangunan Jepang (TRDI) meluncurkan prototype panser kanon 105mm  lightweight yang disebut Maneuver Combat Vehicle (MCV).

Kendaraan tempur ini dibangun dengan biaya $183 juta berdasarkan disain ICV  Stryker Angkatan Darat AS.

Panser kanon 8×8 ini dibuat oleh TRDI yang bermarkas di Sagamihara- Kanagawa, untuk memenuhi kebutuhan kendaraan perang dengan kemampuan mobile dan persenjataan yang tinggi, yang secara cepat dapat dikirim melalui udara, darat dan laut.

Media lokal Jepang menyatakan Panser MCV akan diproduksi oleh Mitsubishi Heavy Industries dan unit pertama ditargetkan bisa digunakan Angkatan Darat Jepang / Japan Ground Self-Defence Force (JGSDF) pada tahun 2016.

Jepang Luncurkan Tank Ringan berpenggerak roda 8×8 (photo: Fumiaki Sonoyama)
Angkatan Darat Jepang saat ini menggunakan self-propelled howitzer tipe 74 (tracked) 105mm, tipe 90 120mm serta tipe 10 main battle tank yang berbobot di atas 40 ton. Alutsista itu dinilai tidak bisa digunakan di segala medan dan hanya bisa diangkut oleh angkutan militer kelas berat. Selain itu MBT tipe 10 Jepang yang bergerak menggunakan rantai (tracked), hanya memiliki kecepatan maksimal 70km/jam. Kini dengan adanya MCV 105mm yang bergerak dengan roda 8×8, laju dari kendaraan tempur tersebut bisa ditingkatkan menjadi 100km/jam.

Panser MCV Jepang, memiliki kecepatan maksimum 100km/jam dengan berat (combat weight) 26 ton, sehingga dinilai lebih lincah daripada kendaraan tempur yang menggunakan rantai (tracked). Berat Panser ini pun cocok dengan minimum payload dari pesawat taktikal transport baru Jepang Kawasaki C-2 yang sedang dikembangkan.

Turet dari panser kanon terletak di bagian belakang hull, yang mengusung kanon 105mm. Senjata panser ini dibimbing oleh fire control system dalam membidik sasaran, termasuk penglihatan untuk siang dan malam bagi petembak maupun komandan.

Sang Komandan memiliki sudut pandang yang luas (panoramic) di bagian depan panser, untuk ikut memonitor pertempuran atau target yang disasar. Senjata mesin kaliber 7.62mm dipasang co-aksial dengan senjata utama (canon 105mm).

Prototype Maneuver Combat Vehicle (MCV) Jepang
Badan panser (hull) yang dibentuk dengan cara dicor serta turret yang menggunakan komposit armor, dibentuk dari awal dengan menggunakan detektor laser, untuk memastikan kerangka hull dan turret tidak memiliki cacat, demi keamanan kru saat pertempuran.

Secara konsep Panser MCV ini sejenis dengan Panser 105mm Centauro Italia, yang mana 400 unit telah digunakan oleh Angkatan Darat Italia dan 84 unit digunakan oleh AD Spanyol. Kini Italia sedang mengembangkan Armoured Infantery Fighting Vehicle (AIFV) Freccia, yang rujukannya mengacu ke Panser Centauro.

Ada kemungkinan Jepang juga akan menggunakan basis Panser MCV untuk pengembangan panser canon 120mm di masa depan. (JKGR)

Sumber : Jakarta Greater

F-16 dan Helikopter Fennec Tiba 2014

Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengatakan pada tahun 2014, TNI akan mendatangkan 14 unit pesawat tempur jenis F-16 serta satu skuadron Fennec dari Perancis. “Tinggal realisasi datangnya peralatan tempur tersebut,” ungkap Moeldoko.

3 F-16 Air National Guard: New Mexico, Colorado dan Montana, terbang di atas Kota Kunsan Korea Selatan, 9 September 2006 (U.S. Air Force photo by Tech. Sgt. Jeffrey Allen)
Selain peralatan tempur untuk angkatan udara, TNI juga terus menambah kekuatan tempur untuk sektor darat dengan menghadirkan Tank Leopard. “Penambahan kekuatan juga dilakukan pada sektor darat yakni dengan menghadirkan tank Leopard. Semuanya dibeli dan bukan dalam bentuk hibah,” ujar Panglima TNI.

Menurut Panglima TNI, tidak ada kebijakan baru terkait pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) pada 2014. ”Untuk pembelian pesawat, kami hanya melanjutkan program yang sudah ada sehingga tidak ada kebijakan baru terkait pengadaan alutsista pada 2014,” ungkap Morldoko di Sanggata, Kutai Timur, Kaltim, usai menghadiri upacara peringatan Hari Ulang Tahun Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Eurocopter AS 550 Fennec Multirole buatan Perancis (Jetphoto.net/Javier González)
Kehadiran alutsista itu, kata Jenderal Meoldoko, akan dipamerkan pada puncak Hari Ulang Tahun TNI 2014 yang kemungkinan dilaksanakan di Kota Surabaya, Jawa Timur.

TNI akan terus melakukan modernisasi alustsista sesuai program “Minimum Essensial Force” (MEF). “Kami akan terus melakukan modernisasi alutsista hingga MEF yang akan berakhir pada 2019 kemudian dilanjutkan hingga 2024. Jadi, semua pembelian austista pada 2014 itu hanya melanjutkan MEF,” ungkap Moeldoko.

Alutsista Indonesia pada tahun 2014, akan terlihat lebih berotot dengan datangnya, antara lain: Pesawat tempur F-16, Helikopter Serang Fennec serta Apache AH-64E Guardian. Kehadiran 2 helikopter Apache pada tahun 2014, sebelumnya telah dikonfirmasi oleh KSAD Jenderal Budiman.

Perangkat elektronik canggih yang berada di bagian luar-depan Helikopter Apache AH-64E-Guardian, memungkinkan pilot untuk mendeteksi ancaman lebih awal (photo: US Army)
Adapun kelebihan dari F-16 Block 25 yang segera datang adalah mampu mengusung rudal Amraam yang memiliki jangkauan tembak lebih jauh. Sementara F-16 Block 15 OCU yang dimiliki Indonesia saat ini hanya bisa mengusung rudal sidewinder yang berjarak pendek.(Antara).

Sumber : Jakarta Greater

Jumat, 25 Oktober 2013

Rusia dan China Tahu Kelemahan Indonesia

Selain kerja keras pemerintah dan rakyat, keberhasilan pembangunan di masa Orde Baru, menurut Soeharto, juga tidak terlepas dari bantuan negara-negara sahabat, khususnya Amerika Serikat.

Dalam pertemuan dengan Presiden Richard Nixon yang berlangsung Mei 1970 di White House itu, Soeharto menyampaikan terimakasih kepada pemerintah Amerika Serikat yang walaupun sedang menghadapi berbagai masalah namun masih dapat mendongkrak bantuan untuk Indonesia.

“Kami sangat menghargai partisipasi Amerika Serikat di International Monetary Fund, Bank Dunia dan Bank Pembangunan Dunia,” ujar Soeharto.

Dia menuturkan bahwa sejak masa pemerintahannya investasi swasta meningkat pesat. Kini ada 173 proyek senilai 900 juta sampai 1 miliar dolar AS. Dari total investasi itu, sebagian besar berasal dari Amerika Serikat. Sementara beberapa beberapa investasi di sektor pertambangan belum akan menghasilkan sampai beberapa tahun lagi.

Dia berharap, proyek di sektor ini akan menghasilkan pada Repelita berikutnya. Dia juga mengatakan bahwa Indonesia sedang mencari sumber-sumber pembiayaan dari pihak lain.

Hal lain yang disampaikan Soeharto adalah keinginannya mempererat kerjasama di bidang ilmu pengetahuan dan pengembangan sumber daya manusia yang dapat dimanfaatkan untuk mempercepat proses pembangunan.

Tetapi dia tidak menguraikan hal itu lebih lanjung, melainkan langsung melompan pada pernyataan, “Walaupun kami memberikan prioritas utama pada persoalan-persoalan ekonomi, namun hal itu juga harus diimbangi dengan perhatian terhadap persoalan pertahanan Indonesia.”

Peralatan militer yang di masa lalu diterima Indonesia kebanyakan dari Rusia sudah tak mampu lagi memenuhi kebutuhan militer Indonesia. Pos anggaran untuk perawatan peralatan militer dari Rusia ini menjadi begitu besar.

“Kami sudah tak punya spare parts lagi. Persoalan ini terutama menimpa Angkatan Laut dan Angkatan Udara kami. Karena peralatan militer kami terutama dari Rusia dan China, kini mereka tahu kelemahan kami.”

Soeharto mengatakan dalam pembicaraan sebelumnya dengan Admiral McCain, salah seorang petinggi militer Amerika Serikat ketika itu, bahwa China telah memiliki misil yang punya jarak tembak sejauh 1100 mil atau sekitar 500 kilometer.

Belum lagi Angkatan Laut Rusia yang dengan bebas beroperasi di Samudera India. Bukan tidak mungkin pada suatu saat nanti, Angkatan Laut Rusia akan mencapai Samudera Pasifik.

“Saat ini kami tidak mempunyai kemampuan yang memadai dalam hal mengantisipasi kehadiran kapal selam militer pihak lain,” ujar Soeharto menggambarkan betapa gawatnya keadaan Indonesia di tengah percaturan dunia saat itu.

Sumber : Teguh Timur

Rusia akan Mengunci Udara Suriah dengan Rudal Canggih

Dalam konperensi pers setelah mengikuti pertemuan puncak KTT G8 di Irlandia Utara yang dilaksanakan tanggal 17-18 Juni 2013, Presiden Rusia Putin menyindir negara Barat dan PM Inggris David Cameron. Putin menyatakan bahwa mempersenjatai pemberontak Suriah bisa seperti memberikan senjata ke tangan jenis orang-orang yang membunuh Drummer Lee Rigby di London baru-baru ini. Rigby adalah anggota dari 2nd Battalion The Royal Regiment of Fusiliers yang dibunuh oleh dua warga Inggris  keturunan Nigeria,  Michael Adebolajo, 28, dan Michael Adebowale, 22. Keduanya menyatakan pembunuhan korban sebagai tentangan mereka atas  tindakan pasukan Inggris di negara-negara muslim.

Putin mengatakan jelas oposisi bukanlah seperti itu, tetapi banyak dari mereka yang persis sama dengan orang-orang yang melakukan pembunuhan di London itu. Jika kita membekali orang-orang seperti  ini, jika kita mempersenjatai mereka, siapa yang akan mengontrol dan memverifikasi pemilik senjata tersebut. Karena itu keputusan Barat mempersenjatai pemberontak sangatlah berbahaya tegas Putin.

Saat ditanya tentang keputusannya untuk terus memasok senjata kepada pemerintah Suriah, Putin menjelaskan langkah Rusia  tidak lebih dari hanya menyelesaikan kontrak hukum pembelian senjata pemerintah Suriah Bashar al-Assad beberapa tahun yang lalu yang belum dipenuhi.

Para pejabat AS mengumumkan pada hari Kamis (20/6) bahwa Presiden Obama telah menyetujui  pengiriman senjata kepada kelompok militan di Suriah untuk pertama kalinya. Deputi penasehat keamanan nasional Presiden AS,  Benjamin J. Rhodes  mengatakan  bahwa AS mampu memberikan persenjataan “tidak hanya ke negara itu,”  tapi “ke tangan yang tepat” kata Rhodes.

S-300 missiles
AS akan mengirimkan peralatan tempur ke kelompok militan Suriah melalui Pangkalan AU Turki Incirlik , yang secara teknis adalah sebuah pangkalan udara NATO, disamping melalui Yordania. Pada hari Minggu, Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel mengatakan bahwa tentara AS akan menempatkan di Yordania  jet tempur F-16 disamping mendislokasikan rudal Patriot.

Menhan AS menjelaskan, ”Salah satu kargo ini terdiri dari alat-alat militer ringan dan semi-berat, peralatan dan senjata tentara AS telah dikumpulkan dan dikumpulkan di Kandahar Base dan direncanakan akan dikirim untuk pejuang pemberontak di Suriah melalui udara dan kargo laut dari Turki dan Yordan.” Senjata-senjata dan sistem senjata yang akan dikirim termasuk senjata anti tank dan sistem rudal, peluncur roket dan roket serta puluhan Humvee lapis baja. Ahli strategi perang senior di Pentagon percaya bahwa mereka dapat mengubah adegan perang di Suriah untuk kepentingan kelompok pemberontak dengan bantuan kargo tersebut, khususnya dengan diberikannya sistem rudal panggul dan kendaraan Humvee multiguna.

Para ahli militer mengatakan, tampaknya AS telah memutuskan mengubah strategi perang di Suriah dan membuka front baru di negara tersebut. Para analis juga mengatakan bahwa Perancis juga telah memasok pemberontak  di Suriah dengan  peluru kendali (rudal) anti pesawat udara Igla buatan Rusia, dan bahkan melatih mereka bagaimana menggunakan sistem tersebut.

Para pemimpin negara-negara Barat serta khususnya Israel disatu sisi kini menjadi sangat khawatir dengan keputusan Rusia yang akan mengirimkan peluru kendali canggih S-300 kepada pemerintahan Bashar al-Assad. Pemerintahan Obama memperingatkan Rusia pada hari Jumat (14/6/2013) agar Rusia tidak merusak upaya perdamaian di Suriah dengan mengirimkan rudal tersebut. Dengan mengirim S-300  akan memperpanjang perang sipil dan mungkin memperluas konflik dan akan melibatkan Israel.

Amerika Serikat dan sekutunya mendukung para pemberontak, sementara Rusia adalah sekutu lama dan pemasok senjata ke Assad. Meskipun Assad telah lama sangat menginginkan rudal canggih S-300, nampaknya proses tetap akan berjalan. Rusia tetap bertekad mengirimkan S-300 ke Suriah, walaupun pada saat lalu membatalkan pengiriman S-300 ke Iran sebagai hasil perundingannya dengan AS. Rusia sebelumnya telah mengirimkan versi rudal Yakhonts, ke Suriah. Baru-baru ini rudal tersebut telah dilengkapi dengan radar canggih yang membuatnya lebih efektif, demikian laporan pejabat intelijen AS seperti diberitakan media.

Tidak seperti Scud dan rudal permukaan-ke-permukaan, sistem rudal Yakhont anti kapal memberikan militer Suriah senjata yang tangguh untuk melawan setiap upaya oleh pasukan internasional untuk memperkuat pemberontak Suriah dengan menerapkan embargo angkatan laut, membangun zona larangan terbang atau melakukan serangan udara terbatas.

Kontrak sistem rudal Yakhont ditandatangani dengan Rusia pada tahun 2007 dan Suriah menerima baterai pertama pada awal tahun 2011. Menurut Jane’s, terdiri dari 72 rudal, 36 kendaraan peluncur, dan peralatan pendukungnya. Panjang rudal sekitar 22 kaki panjang, membawa hulu ledak tinggi atau armor-piercing, dan memiliki jangkauan sekitar 180 kilometer.

Para pejabat Rusia telah berulang kali mengatakan bahwa dalam menjual senjata ke Suriah, mereka hanya memenuhi kontrak-kontrak lama. Tetapi beberapa pejabat Amerika khawatir bahwa pengiriman dimaksudkan untuk membatasi opsi Amerika Serikat yang harus memilih untuk campur tangan dalam membantu pemberontak. Saat sebelumnya, pengiriman rudal SA-17 permukaan-ke-udara dari Rusia ke Suriah telah diserang oleh Israel melalui serangan udara terhadap truk yang mengangkut senjata di dekat Damaskus pada bulan Januari tahun ini. Israel belum secara resmi mengakui serangan itu tetapi mengatakan pihaknya siap untuk melakukan intervensi militer untuk mencegah pengiriman senjata canggih dari Rusia. Israel lebih khawatir apabila rudal jatuh ketangan kelompok Hizbullah di Lebanon yang merupakan sekutu Assad dan juga adalah musuh abadinya.

Memang para pemberontak Suriah tidak memiliki pesawat tempur, sistem rudal S-300 terutama ditujukan uintuk menetralisir  ancaman dari Barat atau Arab yang mungkin mencoba untuk memberlakukan zona larangan terbang di Suriah. Ataupun juga dimaksudkan untuk menghadang pesawat tempur Israel yang mungkin akan menyerang depo senjata kimia Suriah.

Menteri Luar Negeri AS John Kerry dan Menteri Luar Negeri Jerman Guido Westerwelle mengatakan transfer S-300 rudal dari Rusia ke Suriah akan memperpanjang perang saudara di negara itu. Sebuah upaya yang membahayakan untuk membentuk pemerintahan transisi melalui negosiasi , disamping juga akan melukai melukai kepentingan strategis Israel sebagai sekutu terdekatnya.

Nampaknya memang AS dan sekutunya, negara-negara Arab dan Israel sangat mengkhawatirkan apabila Suriah memiliki Rudal S-300. Rudal ini memiliki jangkauan hingga 200 kilometer (125 mil) dan mempunyai kemampuan untuk melacak dan menyerang beberapa sasaran secara bersamaan dengan presisi yang mematikan. Para pejabat Rusia mengatakan S-300 juga mampu menembak jatuh hulu ledak rudal balistik jarak pendek dan menengah. Rusia menegaskan bahwa S-300 lebih unggul dibandingkan dengan sistem rudal Patriot AS. Presiden Rusia, Putin pada Selasa (11/6) menggambarkannya sebagai “mungkin senjata tersebut terbaik di dunia.”

S-300 memang belum teruji karena belum pernah digunakan dalam pertempuran. Sementara sistem Patriot telah terbukti hebat, karena telah teruji saat digunakan dalam Perang Teluk 1991 dan perang di Irak 2003. Tetapi walaupun demikian, teknologi perang peralatan tempur buatan Rusia semakin hari dinilai Barat semakin canggih dan bukan tidak mungkin mampu mengungguli peralatan buatan Barat. Oleh karena itu dengan beberapa kombinasi kepemilikan sistem Hanud (Pertahanan Udara), laut dan darat Suriah yang terintegrasikan dalam sebuah sistem pertahanan dari Rusia, nampaknya wilayah udara Suriah akan dikunci dengan alutsista (alat utama sistem senjata) Rusia, dan negara-negara Barat tidak bisa menyepelekannya lagi. Disinilah peran kunci sebuah teknologi persenjataan yang terintegrasi.

Perang yang telah berlangsung selama 26 bulan masih belum jelas kapan akan selesainya. Korban yang menurut PBB telah mencapai 93.000 jiwa, bahkan menurut Menteri Luar Negeri John F. Kerry, korban yang telah jatuh diatas 100.000 jiwa. Memprihatinkan memang perang saudara Suriah yang akhirnya hanya menjadi ajang persaingan kepentingan negara-negara besar. Disinilah kita bangsa Indonesia dapat memetik pelajaran, sebaiknya waspada dan hati-hati, betapa mengerikannya akibat dari sebuah perang saudara itu.

Oleh : Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Peralatan militer dari rusia atau dari USA

Produksi Persenjataan ke 2 negara tersebut sangat bagus, tetapi kita harus melihat dari skala prioritas ancaman terhadap pertahanan negara

Skala Ancaman dari Luar dan Kiblat Peralatan pertahanan mereka :
1. Malaysia = Condong ke negara Nato + Rusia
2. Singapura = Condong ke negara Nato + Israel
3. Australia = Condong ke negara Nato

Keunggulan teknologi Rusia :
1. Pembelian tidak disertai syarat politik
2. Pembelian bisa dgn kredit Sumber Daya Alam
Cth : Beli Sukhoi dan Heli Tempur dgn impal CPO & Karet dari PTPN.
3. Teknologi canggih
4. Tidak ada Embargo

Kelemahan dari Rusia
Alih teknologi Rumit, Indonesia sulit dipercaya karena : 
Saat terjadi perang Arab, antara Israel vs Mesir, Israel kesulitan mengalahkan Mesir karena Armada Kapal Perang Mesir banyak buatan Uni Soviet yang memiliki Peluru Kendali Anti Kapal Atas Air yang sangat ditakuti Israel.

Kemudian Israel meminta bantuan kpd Amerika untuk melobi Indonesia yang memiliki jenis kapal perang dan Peluru Kendali Anti Kapal Atas Air buatan Uni Soviet yang sama dengan Mesir.

Kemudian Pemerintahan Amerika melobi pemerintah Indonesia untuk memberikan Peluru Kendali Tersebut dengan Imbalan Amerika akan menghibahkan Kapal Perang kepada Indonesia.

Setelah Peluru Kendali Tersebut di peroleh Amerika maka Amerika & Isreal mempelajari sistem & kinerja nya sehingga kelemahannya di ketahui

Hasilnya Isreal dapat membungkam Peluru Kendali dari kapal perang Mesir, sehingga Israel memenangkan perang Arab.

Keunggulan teknologi Amerika/ negara Nato :
1. Teknologi canggih & modern
2. Mudah dipelajari & digunakan

Kelemahannya :
1. Pembelian menggunakan syarat politik
Cth : Saat terjadi konflik di Aceh, Pesawat Tempur F16, Hawk TNI AU dan Tank Scorpion TNI AD tidak dibolehkan digunakan di Aceh
2. Rentan di lumpuhkan / di blok, 
Cth : Peristiwa saat Pesawat tempur F16 TNI AU mencegat Patroli F/A 18 Hornet yang mengawal Kapal Induk Amerika, sistem persenjataan F16 TNI AU lumpuh / tidak bisa digunakan, malahan F16 TNI AU kena kunci & siap ditembak jatuh oleh F/A 18 Hornet Amerika.
3. Mudah dilacak, setiap produk yang mereka buat pasti telah memiliki sistem pelacak, sehingga posisi peralatan militer tsb dapat dilacak keberadaannya.

Pilihan saya adalah Alih Teknologi dari Rusia dengan komitmen Pemerintah jangan Plin-Plan dgn Kuputusannya …….. sehingga Teknologi Militer Rusia yang di Migrasi dapat di Bangun Di Indonesia.

Maju & Jaya Industri Militer Indonesia ......

Sumber : Forum detik

Panglima TNI Kaji Kapal Selam Rusia

Kapal Selam Kilo Rusia
Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengaku tertarik untuk mengkaji dan mendalami tawaran 10 kapal selam eks angkatan laut Rusia. Kondisi kapal selam tersebut dinyatakan masih memadai, namun TNI tetap akan melakukan verifikasi secara mendalam, sebelum mengambil keputusan.

Kapal selam dari Rusia sudah ada. Mereka membuka kesempatan karena kedekatan dengan kita

“Saya kira kita tertarik dengan itu. Sampai saat ini masih dilakukan kajian dan pendalaman. Dan kalau bisa, itu akan lebih bagus, ya,” ujar Panglima TNI Jenderal Moeldoko di sela-sela raker dengan Komisi I DPR RI

Panglima TNI mengatakan, pihaknya merespons sangat baik atas tawaran 10 kapal selam dari Rusia itu, karena memiliki efek gentar yang cukup baik. Apalagi kapal selam yang ditawarkan ke Pemerintah Indonesia cocok dengan kondisi Tanah Air, yakni jenis dan tipe kapal selam kelas menengah.

Sebelumnya Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyatakan, pemerintah mendapat tawaran untuk membeli sekitar 10 unit kapal selam dari Rusia. Jumlah ini di luar rencana pembelian tiga unit kapal selam dari Korea Selatan yang akan datang pada 2014.

“Kapal selam dari Rusia sudah ada. Mereka membuka kesempatan karena kedekatan dengan kita,” ujar Purnomo beberapa waktu lalu. Saat itu Purnomo menyatakan, pemerintah belum bulat untuk menerima tawaran Rusia karena masih harus mempertimbangkan dan menghitung biaya.

Selain harga kapal selam per unit, pemerintah juga harus mempertimbangkan besarnya biaya perawatan, pemeliharaan, perbaikan, dan kesiapan infrastruktur. Hal lain yang menjadi pertimbangan adalah usia atau masa guna kapal selam tersebut. “Kita sedang survei pangkalan kapal selam, salah satunya di Palu,”ujarnya.

Pada tahun 2024 , Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan Indonesia, akan berada pada empat negara kuat di kawasan Asia Tenggara bersama Singapura, Malaysia, dan Thailand. Bersama tiga negara ini, Indonesia akan membentuk ASEAN Defense Ministerial Meeting yang kuat dari ancaman kawasan luar.(jurnalparlemen.com).

F-16C block 25 yang akan dihibahkan ke Indonesia saat masih bergabung dengan Skuadron 113th TFS parkir di pangkalannya Terre Haute IAP, Oktober 1991 [Photo by Gary Chambers]

Sumber : Jakarta Greater