Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 November 2013

UMK Rp 2,9 juta, 10% perusahaan di Bekasi terancam bangkrut

Tingginya upah minimum kota (UMK) Bekasi diperkirakan akan berimbas pada perusahaan-perusahaan kecil. Pemerintah Kota Bekasi, Jawa Barat, mencatat ada 10 persen dari total 1.018 perusahaan saat ini terancam bangkrut karena tak sanggup penuhi UMK.

"Kenaikan upah yang kemarin saja (2013) masih banyak yang belum bisa penuhi. Jumlahnya sekitar 10 persen," kata Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi, di Bekasi, seperti dilansir dari Antara, Sabtu (2/11).

UMK Kota Bekasi pada 2013 sebesar Rp 2,1 juta. Untuk 2014, UMK Bekasi telah ditetapkan sebesar Rp 2,9 juta atau naik 40 persen.

Menurut Rahmat, perusahaan yang terancam bangkrut tersebut pada tahun ini disetujui penangguhan pembayaran gaji sesuai UMK-nya karena kemampuan perusahaan yang tidak memadai. "Ribuan buruh bisa kehilangan pekerjaan karena tutupnya perusahaan-perusahaan itu. Jangan sampai hal itu terulang lagi tahun depan," katanya.

Kemungkinan lain dari efek negatif aksi mogok kerja adalah pemindahan investasi pengusaha ke sejumlah negara lain yang memiliki kondusivitas wilayah yang lebih baik. "Saat ini banyak negara di Asia siap menampung perpindahan investasi industri dari Indonesia," katanya.

Maka dari itu, pihaknya mengajak elemen buruh dan pengusaha untuk menciptakan situasi yang kondusif agar pembahasan UMK oleh Dewan Pengupahan Kota (Depeko) menghasilkan angka objektif. Rahmat menambahkan, pihaknya hingga kini masih mengalkulasi total kerugian akibat aksi mogok nasional yang berlangsung 31 Oktober 2013 lalu.

"Kerugian yang jelas terjadi adalah bahan bakar, serta kekecewaan masyarakat akibat transportasi publik terganggu," katanya.

Sumber : Merdeka

Hanya 50 persen lulusan universitas mengerti pasar modal

Pasar modal belum menjadi industri yang familiar untuk masyarakat Indonesia. Bahkan, untuk kalangan berpendidikan tinggi sekalipun.

Hanya sekitar 50 persen sarjana yang mengerti soal industri keuangan, khususnya pasar modal. "Semakin ke bawah pendidikannya, semakin kecil pemahamannya soal industri keuangan. Saya pikir sekitar 15 persen yang hanya mengerti," ujar Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D. Hadad, saat workshop pasar modal, di Bali, Minggu (3/11).

Sehingga wajar jika pertumbuhan pasar modal saat ini masih tertinggal dibandingkan dengan industri keuangan lainnya, semacam perbankan, di Indonesia. Ini berbeda dengan pertumbuhan pasar modal di negara maju yang lebih pesat ketimbang perbankannya.

"Ini mengingat size atau market di pasar modal negara tersebut sangat besar. Berbeda dengan Indonesia, dimana masalah size atau kapitalilsasi pasar di pasar modal masih menjadi persoalan yang harus di kembangkan lagi," kata Muliaman.

Untuk itu, OJK beserta Bursa Efek Indonesia (BEI) terus melakukan sosialisasi lebih jauh terkait pemahaman pasar modal. Sehingga ke depan pasar modal bisa dijadikan sumber pendanaan jangka panjang di luar perbankan.

"Kondisi ini diharapkan juga ikut mendongkrak jumlah investor pasar modal lebih banyak lagi dan ada opsi yang bisa dimanfaatkan di pasar modal terkait pembiayaan jangka panjang," ungkapnya.

Sumber : Merdeka

Jumat, 25 Oktober 2013

Indonesia-Korea Selatan targetkan perdagangan 50 miliar dolar AS

Pemerintah Indonesia dan pemerintah Korea Selatan menargetkan peningkatan nilai perdagangan hingga 50 miliar dolar Amerika Serikat pada 2015 mendatang dari nilai saat ini 30 miliar dolar Amerika Serikat.


"Tahun lalu 30 miliar dolar AS, kedua negara menargetkan peningkatan 50 miliar dolar AS pada 2015, dan menjadi 100 miliar dolar AS pada 2020," kata Presiden Susilo Yudhoyono, dalam keterangan pers bersama Presiden Korea Selatan, Park Geun-hye, di Istana Merdeka Jakarta, Sabtu petang.

Pemimpin ekonomi Korea Selatan, Presiden Park Geun-hye, berjalan menuju lokasi APEC Leaders Dinner and Cultural Performance di BNDCC, Nusa Dua, Bali, Senin malam (7/10). Seusai putaran KTT APEC 2013 di Nusa Dua ini, Park melakukan kunjungan kenegaraan resmi kepada koleganya, Presiden Indonesia, Susilo Yudhoyono, di Jakarta. 
Park melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia selama tiga hari sejak Kamis pekan ini, sebagai bagian dari peningkatan hubungan bilateral kedua negara. Korea Selatan satu dari lima besar investor mancanegara penting bagi Indonesia, sementara Indonesia merupakan mitra penting Korea Selatan selain ekonomi.

"Kerjasama kami teruji dalam sejarah, ketika 1998 dunia dan Asia alami krisis, termasuk Korea Selatan dan Indonesia, kerjasama ekonomi tetap berjalan. Investor tetap di Indonesia," kata Yudhoyono.


"Presiden Park juga sampaikan komitmen tinggi atas kerjasama kita dan saya juga sampaikan Indonesia pandangannya yang sekarang dikelola working group.Investasi dan perdagangan, investasi Korea Selatan terus meningkat 1,9 miliar dolar AS tahun lalu," katanya.


"Dalam pertemuan tadi kami sepakat meningkatkan kerjasama masa depan, apa yang diraih akan dijaga dan pertahankan, masih ada usia yang akan kami atasi dan melangkah ke depan tingkatkan kerjasama indonesia dan Korea Selatan," kata Yudhoyono.

Sumber : ANTARA

Kamis, 24 Oktober 2013

Google jadi makelar iklan Facebook

Google dan Facebook baru saja menjalin kerjasama dalam hal pemasangan iklan di platform keduanya. Nantinya, Google juga akan turut menjual space iklan di Facebook pada para pengiklan setianya.

Seperti yang dilansir oleh Mashable (18/10), nantinya kemungkinan para pengiklan AdWords akan diberikan pilihan di mana iklan mereka ingin ditampilkan. Iklan tersebut bisa ditampilkan di layanan Google seperti mesin pencari hingga email atau ditampilkan dalam laman Facebook.

Slot iklan Facebook yang dijual Google sendiri akan disediakan dalam menu DoubleClick Bid Manager yang menggunakan sistem lelang real-time. Mereka yang memiliki tawaran bagus akan diberikan kesempatan Google untuk menampilkan iklannya dalam Facebook.

Memang, meskipun sebenarnya kedua raksasa teknologi ini berebut pendapatan dari para pengiklan, sebenarnya sudah sejak lama mereka bahu membahu untuk mencapai tujuan yang sama. Salah satunya, tentu dengan melakukan kerjasama ini.

"Kerjasama sudah menjadi kunci sukses Google saat kesempatan makin luas seperti sekarang ini. Jadi, kami dengan bangga mengumumkan cara baru bagi klien untuk ikut dalam FBX (program periklanan Facebook)," tulis Payam Shodjai, Senior Product Manager Google dalam sebuah rilis.

FBX sendiri merupakan program periklanan Facebook yang dibuat untuk para pengiklan. Program ini bisa menanamkan cookies dalam peramban internet pengguna sehingga sebuah iklan bisa muncul berkali-kali untuk pengguna yang sama.

Google dan Facebook.
Saingi Google, Microsoft buat kacamata mirip Google Glass

Tidak hanya bersaing dalam hal search engine atau software, Microsoft kabarnya juga akan saingi Google dalam hal wearable gadget yaitu kacamata mirip Google Glass.

Kabar yang beredar di internet menyebutkan bahwa Microsoft sedang mengujicobakan sebuah prototype kacamata yang terhubung langsung dengan internet.

Ketika dihubungi tim Cnet (22/10), pihak Microsoft masih belum memberikan penjelasan terkait rumor ini. Apabila rumor tersebut benar, maka Google masuk sebagai lakon baru dalam persaingan wearable gadget yang sekarang ini sedang dikembangkan oleh Google, Samsung, Apple dan beberapa vendor lainnya.

Untuk Google Glass sendiri, kemungkinan kacamata hi-tech ini akan segera dirilis oleh Google pada pertengahan tahun 2014 mendatang.

Sumber : Merdeka

Rabu, 23 Oktober 2013

6 Sektor bisnis di Indonesia yang dikuasai asing

Sistem perekonomian dunia kini semakin terbuka. Beberapa negara menerapkan kebijakan ramah terhadap investor asing. Hanya beberapa saja yang membatasi ruang gerak investor asing dalam pembangunan perekonomiannya.

Indonesia masuk daftar negara yang cukup ramah terhadap investor asing. Beberapa kebijakan pemerintah justru sengaja dilahirkan untuk menarik perhatian investor asing agar mereka mau masuk dan berkontribusi dalam pembangunan ekonomi nasional.

Tengok saja kebijakan pemberian keringanan pajak yang disiapkan sebagai karpet merah bagi investor asing yang bersedia menanamkan modalnya di tanah air. Jadi jangan heran jika investor asing berbondong-bondong datang ke Indonesia dan meminta pembebasan pajak.

Masuknya investasi asing harus diakui memberikan kontribusi bagi gerak perekonomian nasional. Kekayaan alam yang sangat besar dimanfaatkan oleh perusahaan asing. Dengan pelbagai kemudahan dan daya tarik berupa kekayaan alam yang melimpah, asing mulai menguasai sendiri-sendi atau sektor-sektor bisnis yang strategis di Indonesia. Padahal, amanat UUD 1945 menyebutkan soal kemandirian dan ketahanan ekonomi.

Kondisi ini mengundang keprihatinan masyarakat. Tidak hanya pelaku ekonomi nasional, tapi juga politisi, akademisi, hingga pejabat. Merdeka.com mencoba merangkum beberapa sektor bisnis strategis tanah air yang dikuasai asing. Berikut paparannya.

Ilustrasi Migas

1. Elektronik
Beberapa waktu lalu rombongan pejabat bidang perekonomian melawat ke Korea Selatan untuk membahas penyelesaian perjanjian ekonomi komprehensif kedua negara (CEPA). Delegasi Indonesia yang diwakili Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan dan Menteri Perindustrian MS Hidayat sepakat membuka pasar dalam negeri untuk produk-produk dari Negeri Ginseng.

Produk-produk Korsel akan dibebaskan masuk ke dalam negeri. Dua sektor yang akan mendapat prioritas, asal ada komitmen berinvestasi, adalah otomotif dan elektronik. Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan, usulan draf CEPA Indonesia akan dirampungkan segera dan dibahas bersama pemerintah Korsel.

2. Telekomunikasi
Pembangunan infrastruktur dan penciptaan pasar di industri telekomunikasi membutuhkan investasi yang tidak sedikit, sedangkan pemodal lokal kurang bisa menanggungnya, maka wajar, berkat kekuatan modal yang dimiliki, kini hampir semua operator seluler, baik Telkomsel, Indosat, XL, Tri, dan Axis dikuasai oleh asing.

Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono menilai dengan penguasaan asing yang besar, Telkomsel dan Telkom tak bisa lagi mengklaim sebagai paling merah putih.

Berdasarkan laporan keuangan operator, saat ini nilai kapitalisasi pasar Telkomsel mencapai USD24 miliar atau sekitar Rp 240 triliun. Artinya, dengan menguasai 35 persen saham Telkomsel, nilai kapitalisasi saham Singtel mencapai USD 8 miliar atau Rp 80 triliun.

Di luar Telkomsel, nilai investasi Axiata Berhad yang memiliki 66 persen saham XL Axiata juga cukup besar. Dengan kapitalisasi saham XL sekitar Rp 43 triliun, nilai saham Axiata di perusahaan ini mencapai sekitar Rp 28 triliun.

Sementara Indosat dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp 35 triliun sebesar 65 persen atau Rp 23 triliun dimiliki oleh Ooredoo, investor asal Qatar.?

Pemilik asing di tiga operator besar juga menguasai pelanggan telekomunikasi di Indonesia, yang mana bila digabungkan menguasai hampir 90 persen pangsa pasar.

3. Migas
Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) menyatakan, saat ini 74 persen wilayah kerja migas dioperatori kontraktor asing. Pasalnya kontrak migas tersebut telah terjadi sejak tahun 1970 sehingga tidak bisa diubah dengan adanya peraturan-peraturan yang baru.

Menurut Gde, saat ini memang kontraktor asing sangat berminat untuk investasi di Indonesia khususnya di bidang migas. Meski begitu, Gde berpendapat kontraktor asing masih dibutuhkan di dalam negeri. Pasalnya, risiko bisnis yang ditanggung juga sangat besar dan butuh pendanaan yang besar pula.

Ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menyesalkan banyak pengelolaan blok-blok migas dalam negeri yang dikuasai asing.

Padahal, Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33 mengamanatkan sumber daya alam dikelola oleh pemerintah untuk kesejahteraan rakyat.

"Kita banyak blok-blok migas tetapi kenapa banyak pengelolaannya oleh asing," ujar Mega beberapa waktu lalu.

4. Asuransi
Merdeka.com - angsa pasar asuransi di Indonesia sangat menggiurkan. Sejumlah perusahaan asing yang bergerak di bidang asuransi berlomba-lomba untuk menjual produk yang dimilikinya.

DPR diharapkan segera membatasi modal asing yang masuk ke industri asuransi melalui UU Usaha Perasuransian yang saat ini tengah dibahas parlemen.

"Selaku pengusaha nasional, memang sudah seharusnya ada pembatasan modal asing. Jadi, jangan nantinya semua sektor dikuasai asing," ujar Direktur Utama MNC Insurance, Viktor Sandjaja paparan Kinerja 2012 MNC Insurance beberapa waktu lalu.

Kondisi ini juga membuat Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama angkat bicara. "Ini Jakarta potensi asuransinya sangat besar. Jangan dikuasai asing. Saya juga tidak nasionalis sempit. Buat apa asuransi dipegang asing?," ujar Ahok.

5. Perbankan
Tidak ada satu pun negara di dunia yang mengizinkan investor asing menjadi pemilik mutlak sebuah bank. Hanya Indonesia yang mengizinkan asing memiliki saham bank hingga 99 persen.

"Betapa liberalnya kita, dari seluruh dunia hanya di Republik ini asing bisa menjadi pemilik bank sebesar 99% kepemilikan sahamnya," ungkap Direktur Utama BNI Gatot Suwondo beberapa waktu lalu.

Wakil Presiden Boediono mengakui eksistensi bank nasional wajib didukung. Dia berkaca dari pengalaman dua negara Eropa, yaitu Islandia dan Siprus.

Perekonomian di negara-negara itu limbung akibat sektor perbankan sudah dikuasai bank asing. Dua negara itu mengalami krisis yang cukup parah seiring resesi zona Euro tiga tahun terakhir.

"Perbankan nasional harus berperan dominan. Pengalaman di Siprus, Islandia, yang sektor perbankan rasio modalnya 10 kali di atas PDB-nya, tapi semuanya dikendalikan bank asing, jadi ekonomi dalam negerinya kacau," kata Boediono saat membuka Indonesia Banking Expo di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (23/5)

6. Pasar modal
Harus diakui, saat ini pasar modal di Indonesia masih dikuasai investor asing. Ini membuat pasar yang menjual berbagai macam instrumen investasi tersebut rentan mengalami volatilitas.

Direktur Teknologi Informasi dan manajemen risiko Bursa efek Indonesia (BEI), Adikin Basirun, mengatakan keberadaan investor asing seperti dua sisi mata uang. Jika investor asing berbondong-bondong membeli saham di Indonesia, maka pasar modal Indonesia menguat.

Sebaliknya, jika investor asing menarik uangnya, maka pasar modal Indonesia akan runtuh. "Ini menunjukkan dominasi investor asing itu sendiri," katanya, di Jakarta, Rabu (23/10).

Untuk itu, Basirun menegaskan, institusi pasar modal Indonesia harus menjaring investor lokal sebanyak-banyaknya. Ini mengikuti apa yang terjadi dengan pasar modal di Korea Selatan yang sudah didominasi oleh investor lokal.

Sumber : Merdeka

Minggu, 20 Oktober 2013

Tahun depan, industri kreatif Bandung siap 'jajah' Malaysia

Bandung memiliki hajatan tahunan berupa pameran hasil industri kreatif. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mendukung gelaran Kickfest Indonesia yang merupakan pameran industri kreatif dari ibu kota Provinsi Jawa Barat ini, diselenggarakan di mancanegara. Semisal di negeri jiran Malaysia tahun depan.

"Kickfest sangat positif dan sudah waktunya menyasar pasar global. Pada dasarnya pemerintah mendukung rencana penyelenggaraan Kickfest di Malaysia dan Singapura," kata Ridwan Kamil di Bandung, Minggu (20/10).

KICKFEST 2013.
Dengan menggelar pameran di luar negeri, industri kreatif akan lebih dikenal luas. Otomatis, produk industri kreatif tidak hanya jago kandang dan hanya menggarap pasar dalam negeri, tapi juga luar negeri.

Dia melihat, peluang itu terbuka lebar mengingat keterhubungan Bandung dan Malaysia lebih mudah saat ini. Apalagi, banyak wisatawan asal Malaysia yang sengaja berkunjung ke Bandung untuk berburu produk industri kreatif.

Ridwan meyakini, terobosan dan inovasi untuk memasarkan produk kreatif di luar negeri sangat diperlukan dalam upaya meningkatkan daya saing sekaligus persiapan masyarakat ekonomi ASEAN 2015.

Di tempat yang sama, rencana ekspansi penyelenggaraan Kickfest di luar negeri juga diungkapkan Project Director Independen Network Indonesia Reza Pamungkas.

"Rencana untuk menggelar Kickfest di Malaysia sudah sejak lama, mudah-mudahan tahun depan bisa terealisasi. Dukungan terus mengalir dari berbagai pihak," kata Reza.

"Banyaknya dukungan, terutama dari Wali Kota Bandung membuat kami lebih optimis merealisasikan rencana itu, setahun ke depan kami akan mempersiapkannya," katanya.

Sumber : Merdeka

Sabtu, 19 Oktober 2013

Soal bulu mata palsu, Indonesia kalahkan China

Orang asing ternyata lebih menyukai bulu mata palsu buatan Indonesia ketimbang China. Soalnya, bulu mata palsu Indonesia dibuat dengan tidak menggunakan mesin, sehingga menyerupai aslinya.
"kalau di China sana menggunakan mesin, terlihat palsunya dan terlalu rapi makanya tidak banyak disukai," kata Pukar Rahmawati, perajin bulu mata palsu asal Purbalingga saat berbincang dengan merdeka.com di Trade Expo Indonesia (TEI) 2013, Jakarta, Sabtu (19/10).
Dia menuturkan, bulu mata palsu Indonesia banyak diminati oleh negara yang masyarakatnya gandrung akan fashion. Diantaranya, seperti Korea, Jepang, China, Malaysia dan Thailand. "Negara itu yang permintaannya terbesar."
Saking banyaknya permintaan, perajin dituntut untuk memproduksi 10 ribu pasang bulu mata palsu setiap harinya. Dampaknya, lapangan kerja menjadi bertambah.
"Kami sudah berjalan enam tahun, dulu pekerja hanya 15 orang sekarang 150 orang. Ini memang sangat menguntungkan bagi semua daerah sini. Di Purbalingga ada 8.000 perajin bulu mata," ungkapnya.
Terlepas dari itu, Pukar mengeluhkan kurangnya dukungan pemerintah dalam peningkatan kemampuan perajin bulu mata palsu dalam berbahasa asing. Padahal, kemampuan bahasa asing sangat mereka butuhkan seiring dengan semakin larisnya produk bulu mata palsu lokal di luar negeri.
"Kan kebanyakan orang asing yang beli, kami kesusahan bahasanya. Memang ada pelatihan, tapi ya kalau sudah pelatihan selesai tidak ada kelanjutannya," katanya.
Sumber : Merdeka