Tampilkan postingan dengan label Kitab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kitab. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Desember 2012

TAFSIR SURAT AL-QORI'AH



1.      Hari Kiamat.
2.      Apakah hari Kiamat itu?
3.      Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?
4.      Pada hari itu manusia adalah seperti kupu-kupu yang bertebaran.
5.      Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.
6.      Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan) nya,
7.      Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.
8.      Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan) nya,
9.      Maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah.
10.  Tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu?
11.  (Yaitu) api yang sangat panas.
Surat yang mulia ini adalah makkiyah, dan ayat-ayatnya berjumlah sebelas ayat.
Pada ayat yang pertama sampai ketiga, Allâh Ta'ala mengulang-ulang kata al-Qâri’ah . Diawali dengan kalimat pernyataan atau berita, kemudian dilanjutkan dengan dua kali kalimat pertanyaan. Sebagaimana telah diterangkan oleh para ulama, hal ini merupakan pengagungan Allâh Ta'ala terhadap betapa besar dan dahsyatnya hari Kiamat.

Banyak penjelasan para ulama terhadap penafsiran makna al-Qâri’ah , yang seluruhnya kembali kepada satu makna, yaitu as-Sa’ah (hari Kiamat).

Secara lebih luas, Syaikh ‘Athiyyah Muhammad Salim rahimahullâh mengatakan :
"Telah dijelaskan oleh Syaikh -semoga Allah merahmati kami dan beliau-pada awal surat al-Wâqi’ah , bahwa (al-Wâqi’ah) bermakna seperti ath-Thâmmah , ash-Shâkh-khah , al-Âzifah , dan al-Qâri’ah … dan telah diketahui (dalam bahasa Arab) bahwa sesuatu apabila besar (dahsyat) keadaannya, ia memiliki banyak nama.

Atau sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Ali radhiyallâhu'anhu (ia berkata), banyaknya nama (pada sesuatu) menunjukkan agungnya perkara tersebut. Juga telah diketahui, bahwa nama-nama tersebut bukanlah sinonim, karena sesungguhnya setiap nama memiliki makna tersendiri. Hari Kiamat dinamakan al-Wâqi’ah , karena hari itu pasti kejadiannya. Juga dinamakan al-Hâqqah  karena hari itu nyata dan benar adanya. Juga dinamakan ath-Thâmmah , karena bencana, malapetaka dan kehancuran pada hari itu sangat umum dan menyeluruh. Juga dinamakan al-Âzifah , karena kejadian hari itu sudah dekat, (hal ini) seperti iqtarabatis sa’ah . Demikian pula surat ini (al-Qâri’ah, Pen).

Lafazh al-Qâri’ah , berasal dari al-Qar’u  yang bermakna adh-Dharb , yakni pukulan. (Sehingga, penamaan hari Kiamat dengan nama ini) sesuai dengan penjelasan pada ayat berikutnya yang menerangkan, bahwa hari itu melemahkan seluruh kekuatan manusia, hingga manusia bagaikan kupu-kupu yang bertebaran, juga melumpuhkan kekuatan gunung-gunung, hingga gunung-gunung itu bagaikan bulu yang berhamburan.

Dari penjelasan di atas, menjadi jelaslah bahwa makna al-Qâri’ah  adalah hari Kiamat, yang pada saat itu terjadi kehancuran, bencana, dan malapetaka yang amat besar. Makna ini, seperti ditunjukkan firman Allâh Ta'ala :
… dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri…(Qs. ar-Ra’d/13:31)

Pada ayat keempat surat al-Qâri’ah ini, Allâh Ta'ala berfirman: Pada hari itu manusia adalah seperti kupu-kupu yang bertebaran Terdapat tiga pendapat di kalangan ulama dalam menafsirkan makna al-Farasy  pada ayat ini.

Pertama, maknanya ialah belalang-belalang kecil yang beterbangan dan saling bercampur-baur antara satu dengan lainnya.Makna ini ditunjukkan oleh firman Allâh Ta'ala :
…seakan-akan mereka belalang yang beterbangan.
(QS al-Qamar/54:7)

Kedua, maknanya ialah sejenis burung kecil atau serangga kecil, bukan nyamuk dan bukan pula lalat.

Ketiga, maknanya ialah sesuatu yang berjatuhan dan bertebaran di sekitar api, baik berupa nyamuk ataupun serangga-serangga kecil lainnya.
Terdapat sebuah hadits shahih yang menunjukkan makna yang ketiga ini. Yaitu hadits Jabir bin Abdillah radhiyallâhu'anhu, beliau berkata:
Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda: “Perumpamaan diriku dengan kalian bagaikan seseorang yang menyalakan api, lalu mulailah laron-laron dan kupu-kupu berjatuhan pada api itu,
Sedangkan ia selalu mengusirnya (serangga-serangga tersebut) dari api tersebut.

Dan aku (selalu berusaha) memegang (menarik) ujung-ujung pakaian kalian agar kalian tidak terjerumus ke dalam neraka, namun kalian (selalu) terlepas dari tanganku”. Pada ayat kelima, Allâh Ta'ala berfirman :
Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan
Sebagian besar ulama menafsirkan lafazh al-‘Ihn dengan makna ash-Shuf . Yaitu bulu atau kapas.

Berdasarkan penjelasan ayat keempat dan kelima di atas, dapat kita pahami, salah satu kejadian yang dahsyat pada hari Kiamat adalah berubahnya keadaan manusia, sehingga ia bagaikan kupu-kupu atau belalang yang beterbangan, bertebaran dengan bercampur-baur dan tidak tentu arahnya. Demikian pula dengan gunung-gunung yang sebelumnya berdiri tegak dan kokoh, maka pada hari itu, gunung-gunung bagaikan bulu berhamburan. Seluruh makhluk Allâh Ta'ala yang kuat dan kokoh, pada saat itu kehilangan seluruh kekuatannya, karena demikian dahsyatnya hari Kiamat.
Bentuk lain dahsyatnya hari Kiamat, disebutkan pula dalam firman Allâh Ta'ala :
(Qs. al-Hajj/22 : 1-2)
1.      Hai manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu!
Sesungguhnya kegoncangan hari Kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).

2.    (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allâh itu sangat keras.

Hari Kiamat itu, juga merendahkan satu golongan dan meninggikan yang lainnya. Firman Allâh Ta'ala :
(Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain). (QS al Waqi’ah/56:3)

Pada hari itu, membuat seluruh manusia teringat segala yang pernah dilakukannya selama hidupnya di dunia. Allâh Ta'ala berfirman :
Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya. (QS an-Nazi’at/79:35)

Pada hari itu, seluruh manusia sibuk dengan urusannya, sampai-sampai ada yang lupa terhadap sanak familinya. Di antara manusia ada yang senang dan berseri-seri dengan sebab amal shalih yang mereka lakukan saat di dunia, yang akhirnya mengantarkannya ke surga. Tetapi sebagian lagi berwajah muram dan bersedih, disebabkan oleh amal-amal buruk yang telah mereka lakukan. Manusia pun mengetahui tempat mereka tinggal nantinya.

Ditunjukkan dalam firman Allâh Ta'ala dalam surat ‘Abasa/80 ayat 34-42:
34.  Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya,
35.  dari ibu dan bapaknya,
36.  dari isteri dan anak-anaknya.
37.  Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.
38.  Banyak muka pada hari itu berseri-seri,
39.  tertawa dan bergembira ria.
40.  Dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu,
41.  dan ditutup lagi oleh kegelapan.
42.  Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.

Demikianlah keadaan manusia pada hari Kiamat. Adapun keadaan gunung-gunung secara khusus pada hari itu, sebagaimana dijelaskan para ulama, mula-mulanya gunung-gunung digerakkan dan dipindahkan dari tempatnya, kemudian benar-benar diluluh-lantakkan bagaikan bulu-bulu yang dihambur-hamburkan, sebagaimana diterangkan pada ayat kelima surat al-Qari'ah ini, hingga akhirnya gunung-gunung itu menjadi debu yang bertebaran dan bahkan menjadi fatamorgana. Pada hari bumi dan gunung-gunung bergoncangan, dan menjadilah gunung-gunung itu tumpukan-tumpukan pasir yang beterbangan.
(QS al Muzzammil/73:14)
Dan dijalankanlah gunung-gunung, maka menjadi fatamorganalah ia.
(QS an Naba‘/78:20)
Maka, sudah seharusnya kita senantiasa bertakwa dan takut kepada Allâh Ta'ala, Yang Maha Perkasa dan Berkuasa atas segala sesuatu.
Pada ayat keenam, Allâh Ta'ala berfirman:
Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan) nya
Ayat ini menunjukkan akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang berkaitan dengan rukun iman kelima. Bahwa salah satu perwujudan beriman kepada hari akhir adalah meyakini adanya mizan (timbangan) pada hari Kiamat kelak. Barangsiapa yang berat amalan kebaikannya, maka akan mendapatkan kehidupan yang baik, dan demikian sebaliknya.
Di antara dalil lainnya dari al Qur‘an yang menunjukkan adanya mizan (timbangan) pada hari Akhir, yaitu firman Allâh Ta'ala , yang artinya: Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat,
maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun, dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya, dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.
(QS al-Anbiya‘/21:47)
Begitu pula banyak hadits shahih yang menunjukkan adanya mizan (timbangan) pada Hari Akhir, sebagaimana hadits-hadits berikut ini.
Hadits Abu Hurairah radhiyallâhu'anhu, beliau berkata:
Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda: “(Ada) dua perkataan yang ringan, (namun) berat dalam mizan (timbangan) dan dicintai oleh ar-Rahman (Allâh Ta'ala ), (yaitu) Subhanallahi wa bihamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya), Subhanallahil ‘Azhim (Maha Suci Allah Yang Maha Agung)”.
Hadits Abu ad-Darda’ radhiyallâhu'anhu, dari Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda:
Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam mizan (timbangan) dari akhlak yang baik.
Pada ayat ketujuh, Allâh Ta'ala berfirman: Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan
Para ulama menjelaskan, yang dimaksud dengan kehidupan yang memuaskan adalah kehidupan di surga.
Banyak ayat yang menerangkan kehidupan yang penuh kenikmatan bagi para penghuni surga, di antaranya firman Allâh Ta'ala dalam surat al-Insan/76 ayat 10-22, yang artinya:
10.  Sesungguhnya kami takut akan (adzab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.
11.  Maka Rabb memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati.
12.  Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (berupa) surga dan (pakaian) sutera.
13.  Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (terik) matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan.
14.  Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya.
15.  Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca,
16.  (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya.
17.  Di dalam surga itu, mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe,
18.  (yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil.
19.  Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda, apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka mutiara yang bertaburan
20.  Dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar.
21.  Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Rabb memberikan kepada mereka minuman yang bersih.
22.  Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan). Dan masih banyak ayat lain yang menerangkan beragam kenikmatan yang diperoleh para penghuni surga. Mudah-mudahan Allâh Ta'ala menjadikan kita termasuk para penghuni surga-Nya. Amin.
Kemudian, pada ayat kedelapan sampai ayat terakhir, Allâh Ta'ala berfirman:
8.      Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya,
9.      Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.
10.  Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?
11.  (Yaitu) api yang sangat panas.
Terdapat tiga penafsiran di kalangan para ulama terhadap makna ayat kesembilan.
Pertama, maknanya adalah, ia jatuh dan masuk ke dalam neraka dengan ujung kepalanya lebih dahulu.[26]
Kedua, ayat tersebut merupakan ungkapan dalam bahasa Arab, dilontarkan bagi orang yang terjatuh ke dalam permasalahan yang berat dan menyulitkan.
Ketiga, maknanya, tempat tinggal dan kembalinya adalah neraka. Sehingga, menurut penafsiran yang ketiga ini, hawiyah  merupakan salah satu dari nama-nama neraka.
Adapun sebab penamaan neraka ini dengan ummuhu , yakni ibunya, karena neraka tersebut sebagai satu-satunya tempat kembalinya. Seolah-olah neraka tersebut adalah ibunya yang merupakan tempat kembalinya seorang anak.
Tiga penafsiran para ulama di atas tidaklah saling bertentangan, bahkan saling mendukung dan menjelaskan makna lainnya.
Terdapat sebuah hadits mauquf yang menunjukkan tentang tiga penafsiran di atas, yaitu hadits Abu Ayyub al-Anshari radhiyallâhu'anhu, beliau berkata :
Apabila seorang hamba telah mati, ahlurrahmah (hamba-hamba Allah yang penuh kasih sayang)
menemuinya seperti orang-orang di dunia menemui pembawa berita gembira.
Mereka menghampirinya untuk menanyainya.
Lalu sebagian mereka berkata, “Tunggulah saudara kalian ini, biarkan ia beristirahat, karena ia masih lelah”.
Lalu mereka pun menghampirinya dan bertanya kepadanya,
“Apa yang dilakukan si Fulan? Apa yang dilakukan si Fulanah? Apakah ia sudah menikah?”.
Lalu tiba-tiba mereka bertanya tentang seseorang yang telah mati sebelumnya,
ia menjawab, “Ia telah binasa”. Mereka berkata, “Inna lillahi wa Inna ilaihi raji’un
(sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kami kembali kepada-Nya), ia telah kembali kepada ibunya (neraka), sungguh itu seburuk-buruk ibu dan seburuk-buruk pendidik”.
Lalu ditunjukkanlah seluruh perbuatan mereka. Jika mereka melihat amal mereka baik, mereka gembira dan senang, lantas berkata, “Inilah kenikmatan-Mu atas hamba-Mu, maka sempurnakanlah”.
Dan jika mereka melihat amal mereka buruk, mereka berkata,
“Ya Allah, lihatlah (periksalah) kembali hamba-Mu”.
Ayat terakhir (kesebelas) surat yang agung ini, diterangkan oleh para ulama, juga merupakan penafsiran dari lafazh hawiyah ( ) pada ayat sebelumnya.
Ada beberapa hadits shahih yang maknanya berkaitan erat dengan ayat terakhir ini, di antaranya sebagai berikut :
Hadits Abu Hurairah radhiyallâhu'anhu, beliau berkata: Sesungguhnya Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda: “Api kalian ini, yang dinyalakan manusia hanyalah sebagian dari tujuh puluh bagian panasnya neraka Jahannam”. Mereka berkata: “Demi Allah, api ini sudah cukup (panas), wahai Rasûlullâh!”.
Beliau bersabda,”Sesungguhnya api neraka Jahannam lebih (panas) sebanyak enam puluh sembilan kali (dari api di dunia). Tiap-tiap bagiannya sama panasnya”.
Hadits an-Nu’man bin Basyir radhiyallâhu'anhu, beliau berkata: Aku mendengar Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya adzab penghuni neraka yang paling ringan pada hari Kiamat adalah,
seseorang diletakkan dua buah bara di tengah-tengah kedua telapak kakinya, (lalu) mendidihlah otaknya disebabkan dua bara itu.”
Hadits Abu Hurairah radhiyallâhu'anhu, beliau berkata: Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda: “Apabila panas menyengat, maka undurkan shalat sampai waktu sejuk,
karena sesungguhnya panas yang menyengat berasal dari hawa Jahannam”.
Mudah-mudahan Allâh Ta'ala senantiasa melindungi dan menjauhkan kita dari segala hal yang dapat mengantarkan kepada panasnya api neraka Jahannam.
Demikianlah tafsir surat al-Qâri’ah, mudah-mudahan bermanfaat dan dapat menambah iman, ilmu dan amal shalih kita. Wallahu A’lam bish- Shawab. (Sumber: Asyariah.com)

HIKMAH DITURUNKANNYA ALQUR'AN SECARA BERANGSUR-ANGSUR


Oleh: Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu
Al-Qur’an tidak diturunkan kepada Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam sekaligus satu kitab. Tetapi secara berangsur-angsur, surat-persurat, ayat-perayat menurut tuntutan peristiwa yang melatarinya. Lantas apa hikmahnya? Hikmah atau tujuannya ialah:

1.      Untuk menguatkan hati Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Firman Allah Subhanahu wa ta'ala: “Orang-orang kafir berkata, kenapa Qur’an tidak turun kepadanya sekali turun saja? Begitulah, supaya Kami kuatkan hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).” (Al-Furqaan: 32)

Kata Abu Syamah, ayat itu menerangkan bahwa Allah memang sengaja menurunkan Qur’an secara berangsur-angsur. Tidak sekali turun langsung berbentuk kitab seperti kitab-kitab yang diturunkan kepada rasul sebelumnya, tidak. Lantas apa rahasia dan tujuannya? Tujuannya ialah untuk meneguhkan hati Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebab dengan turunnya wahyu secara bertahap menurut peristiwa, kondisi, dan situasi yang mengiringinya, tentu hal itu lebih sangat kuat menancap dan sangat terkesan di hati sang penerima wahyu tersebut, yakni Muhammad. Dengan begitu turunnya melaikat kepada beliau juga lebih intens (sering), yang tentunya akan membawa dampak psikologis kepada beliau; terbaharui semangatnya dalam mengemban risalah dari sisi Allah. Beliau tentunya juga sangat bergembira yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Karena itu saat-saat yang paling baik di bulan Ramadhan, ialah seringnya perjumpaan beliau dengan Jibril.

2.      Untuk menantang orang-orang kafir yang mengingkari Qur’an, karena menurut mereka aneh kalau kitab suci diturunkan secara berangsur-angsur. Dengan begitu Allah menantang mereka untuk membuat satu surat saja yang (tak perlu melebihi) sebanding dengannya. Dan ternyata mereka tidak sanggup membuat satu surat saja yang seperti Qur’an, apalagi membuat langsung satu kitab.

3.      Supaya mudah dihapal dan dipahami.

Memang, dengan turunnya Qur’an secara berangsur-angsur, sangatlah mudah bagi manusia untuk menghafal serta memahami maknanya. Lebih-lebih bagi orang-orang yang buta huruf seperti orang-orang arab pada saat itu; Qur’an turun secara berangsur-angsur tentu sangat menolong mereka dalam menghafal serta memahami ayat-ayatnya. Memang, ayat-ayat Qur’an begitu turun oleh para sahabat langsung dihafalkan dengan baik, dipahami maknanya, lantas dipraktekkan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Itulah sebabnya Umar bin Khattab pernah berkata:

“Pelajarilah Al-Qur’an lima ayat-lima ayat. Karena Jibril biasa turun membawa Qur’an kepada Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam lima ayat-lima ayat.” (HR. Baihaqi)

4.      Supaya orang-orang mukmin antusias dalam menerima Qur’an dan giat mengamalkannya. 
Dengan begitu kaum muslimin waktu itu memang senantiasa menginginkan serta merindukan turunnya ayat-ayat Qur’an. Apalagi pada saat memerlukannya karena ada peristiwa yang sangat menuntut penyelesaian wahyu; seperti ayat-ayat mengenai kabar bohong yang disebarkan oleh kaum munafik untuk memfitnah bunda Aisyah, dan ayat-ayat tentang li’an.

5.      Mengiringi kejadian-kejadian di masyarakat dan bertahap dalam menetapkan suatu hukum.
Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur; yakni dimulai dari maslaah-masalah yang sangat penting kemudian menyusul masalah-masalah yang penting. Nah, karena masalah yang sangat pokok dalam Islam adalah masalah Iman, maka pertama kali yang dipriorotaskan oleh Al-Qur’an ialah tentang keimanan kepada Allah, malaikat, iman kepada kitab-kitabnya, para rasulnya, iman kepada hari akhir, kebangkitan dari kubur, dan surga neraka. Hal itu didukung dengan dalil-dalil yang rasional yang tujuan untuk mencabut kepercayaan-kepercayaan jahiliyah yang berpuluh-puluh tahun telah menancap di hati orang-orang musyrik untuk ditanami/diganti dengan benih-benih akidah Islamiyah.

Setelah akidah Islamiya itu tumbuh dan mengakar di hati, baru Allah menurunkan ayat-ayat yang memerintah berakhlak yang baik dan mencegah perbuatan keji dan mungkar untuk membasmi kejahatan serta kerusakan sampai ke akarnya. Juga ayat-ayat yang menerangkan halal haram pada makanan, minuman, harta benda, kehormatan, darah/pembunuh dan sebagainya. Begitulah Qur’an diturunkan sesuai dengan kejadian-kejadian yang mengiringi perjalanan jihad panjang kaum muslimin dalam memperjuangkan agama Allah di muka bumi. Dan ayat-ayat itu tak henti-henti memotivasi mereka dalam perjuangan ini. Mari kita simak contoh-contoh di bawah ini :

a.       Surat Al An’am adalah surat makiyah karena turun di Mekah. Isinya menjelaskan perkara iman, akidah tauhid, bahaya syirik, dan menerangkan apa yang halal dan haram, firman Allah Ta'ala:

“Katakanlah: “Marilah saya bacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu menyekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu, dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kami yang akan memberi rizki kamu dan mereka.” (Al An’am:152)

Kemudian, ayat-ayat yang menerangkan hukum-hukum secara rinci, baru menyusul turun di Madinah; seperti tentang utang piutang dan pengharaman riba. Juga tentang zina, itu diharamkan di Mekkah, yaitu ayat:

“Jangan kau mendekati zina. Karena sesungguhnya zina satu perbuatan keji dan seburuk-buruk jalan.” (Al Isra:32)

Tapi, ayat-ayat yang merinci hukuman bagi orang yang melakukan zina turun di Madinah kemudian.
b.      Tentang undang-undang pengharaman khamer, yang pertama kali turun ialah ayat:

“Dan dari buah kurma serta anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik …” (An-Nahl:67)
Kemudian yang turun berikutnya ialah ayat:
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamer dan judi. Katakanlah bahwa pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosanya lebih besar dari pada manfaatnya.” (Al-Baqarah:219)

Di dalam ayat itu dikatakan bahwa khamer itu mengandung manfaat yang temporal sifatnya, dan bahayanya lebih besar bagi tubuh, bisa merusak akal, pemborosan harta benda, dan bisa menimbulkan berbagai macam masalah kejahatan serta kemaksiatan di masyarakat. Setelah itu turun ayat yang melarang mabuk ketika shalat.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian shalat ketika kalian dalam keadaan mabuk sampai kalian mengerti apa yang kalian ucapkan.” (An-Nisaa’:43)

Setelah mereka tahu dan menyadari bahwa mabuk saat shalat diharamkan, kemudian turun ayat yang lebih tegas lagi :

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (minum) khamer, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Oleh kraena itu, jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al Maidah:90)

Untuk lebih menjelaskan lagi bahwa turunnya Qur’an secara berangsur-angsur, ialah apa yang dikatakan Bunda Aisyah berikut :

“Sesungguhnya yang pertama kali turun ialah surat dari surat-surat mufashal yang di dalamnya disebutkan perihal surga dan neraka, sehingga jika manusia telah kembali/masuk Islam, maka turunlah surat yang menyebutkan tentang halal haram. Nah, sekiranya yang mula-mula turun ialah ayat yang berbunyi: janganlah kamu minum khamer, pasti mereka berkata: kami tidak akan meninggalkan kebiasaan minum khamer selama-lamanya. Dan seandainya yang turun itu ayat yang berbunyi: jangan berzina, niscaya mereka menjawab: kami tidak akan meninggalkan kebiasaan berzina selama-lamanya.” (HR.Bukhari)

((Sumber: “Pemahaman Al Qur’an”, Syaikh Muhammad Ibnu Jamil Zainu. Penerbit: Gema Risalah Press, Bandung; Cet. Pertama: September 1997, hal.47-51))

Sabtu, 15 Desember 2012

TAURAT



Kitab Taurat ialah salah satu daripada empat buah kitab Islam. Kitab ini mengandungi wahyu Allah Taala kepada Nabi Musa a.s. Ia diturunkan khusus untuk umat Nabi Musa a.s. Kitab taurat merupakan kesinambungan kitab Nabi Allah yang terdahulu iaitu Zabur. Kitab Taurat kemudian diikuti dengan penurunan kitab Injil dan kitab suci yang terakhir iaitu Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad s.a.w, sebagai pelengkap kepada semua kitab-kitab suci yang sebelumnya. Dengan turunnya Al-Quran, secara tidak langsung semua ajaran kitab-kitab yang terdahulu termansuh dengan sendirinya.

Al-Quran menyatakan bahawa Injil dan Taurat telah ditahrif (diubahsuai iaitu ditokok tambah dan dikurangi) oleh penganut-penganutnya yang menyeleweng selepas Nabi Musa wafat dan Nabi Isa diangkat ke langit.
Di dalam surah al-Ma'idah, ayat 13 - 14, Allah Taala berfirman yang bermaksud : (dipetik dari Tafsir Pimpinan Ar-Rahman Kepada Pengertian Al-Qur'an terbitan Bahagian Hal Ehwal; Islam, Jabatan Perdana Menteri, Malaysia)

13. "Maka dengan sebab mereka mencabuli perjanjian setia mereka, Kami laknatkan mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membatu (tidak mahu menerima kebenaran). Mereka sentiasa mengubah Kalimah-kalimah (yang ada di dalam kitab Taurat dengan memutarnya) dari tempat-tempatnya (dan maksudnya) yang sebenar, dan mereka melupakan (meninggalkan) sebahagian dari apa yang diperingatkan mereka dengannya. Dan engkau (wahai Muhammad) sentiasa dapat melihat perbuatan kianat yang mereka lakukan, kecuali sedikit dari mereka (yang tidak berlaku kianat). Oleh itu, maaflah mereka (jika mereka sedia bertaubat) dan janganlah dihiraukan, kerana sesungguhnya Allah suka kepada orang-orang yang berusaha supaya baik amalannya."

14."Dan di antara orang-orang yang berkata : Bahawa kami ini orang-orang Nasrani, Kami (tuhan) juga telah mengambil perjanjian setia mereka, maka mereka juga melupakan (meninggalkan) sebahagian dari apa yang diperingatkan mereka dengannya, lalu Kami tanamkan perasaan permusuhan dan kebencian di antara mereka, sampai ke hari Kiamat; dan Allah akan memberitahu mereka dengan apa yang telah mereka kerjakan."

Taurat dalam Al-Qur'an
  • Di dalam Surah Ali 'Imran ayat ke 3 dan ke 4 (dipetik dari Tafsir Pimpinan Ar-Rahman Kepada Pengertian Al-Qur'an terbitan Bahagian Hal Ehwal; Islam, Jabatan Perdana Menteri, Malaysia)
3. "Dia menurunkan kepadamu (wahai Muhammad) Kitab suci (Al-Qur'an) dengan mengandungi kebenaran, yang mengesahkan isi Kitab-kitab suci yang telah diturunkan dahulu daripadanya, dan Dia juga yang menurunkan Kitab-kitab Taurat dan Injil".

4. Sebelum (Al-Qur'an diturunkan), menjadi petunjuk bagi umat manusia. Dan Dia juga yang menurunkan Al-Furqaan (yang membezakan antara yang benar dengan yang salah). Sesungguhnya orang-orang yang kufur ingkar akan ayat-ayat keterangan Allah itu, bagi mereka azab seksa yang amat berat. Dan (ingatlah), Allah Maha Kuasa, lagi berhak membalas dengan azab seksa (kepada golongan yang bersalah).
  • Surah Al-Maa’idah 5:46 "...Dan Kami utuskan Nabi Isa Ibni Mariam mengikuti jejak langkah mereka (Nabi-nabi Bani Israil), untuk membenarkan Kitab Taurat yang diturunkan sebelumnya dan Kami telah berikan kepadanya Kitab Injil, yang mengandungi petunjuk hidayat dan cahaya yang menerangi, sambil mengesahkan benarnya apa yang telah ada di hadapannya dari Kitab Taurat, serta menjadi petunjuk dan nasihat pengajaran bagi orang-orang yang (hendak) bertakwa".
  • Surah Al-Hadid 57:27 "...Kemudian Kami iringi sesudah mereka: Rasul-rasul Kami silih berganti dan Kami iringi lagi dengan Nabi Isa Ibni Mariam, serta Kami berikan kepadanya: Kitab Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutnya perasaan belas kasihan (sesama sendiri). Dan (perbuatan mereka beribadat secara)"Rahbaniyah" (iaitu seperti bertapa di tempat-tempat yang terpencil, mengharamkan dirinya daripada berkahwin dan menjauhi kemewahan hidup)- merekalah sahaja yang mengadakan dan mereka(mencipta)nya; Kami tidak mewajibkannya atas mereka; (mereka berbuat demikian) kerana mencari keredhaan Allah; dalam pada itu mereka tidak menjaga dan memeliharanya menurut yang sewajibnya ..."
Namun begitu, Al-Qur'an menyebut nama-nama kitab yang terdahulu dan kandungannya yang berupa ajaran kepada umat pada waktu tersebut, sebagai tanda kewajiban umat Islam mempercayai "kewujudannya" dan bukan sebagai ikutan , iaitu selepas turunnya Al-Qur'an. Sebagaimana ayat 3 dan 4 dalam Surah Ali 'Imran seperti yang tertulis di atas.

ZABUR



Zabur disamakan oleh sesetengah ulama dengan Psalms, yang, menurut Islam, salah satu kitab suci yang diturunkan sebelum Al Qur'an (selain Taurat dan Injil).
Istilah zabur adalah persamaan dengan istilah ibrani zimra, bermaksud "lagu, muzik." Ia, bersama dengan zamir ("lagu") dan mizmor ("psalm"), merupakan terbitan zamar, bermaksud "nyanyi, nyannyikan pujian, buatkan muzik."

Zabur merupakan koleksi sajak dan lagu kerohanian. Semua itu asalnya disalin untuk dinyanyikan, bukan sekadar dibaca. Menurut tradisi Islam, Zabur merupakan kitab yang digunakan di Istana Suci Sulaiman di Baitulmaqdis (iaitu, kuil Sulaiman). Lazimnya, digelar Zabur Daud. Tidak dikatakan yang Daud menulis semua yang ada di dalam Zabur, kerana sesetengah ulama Islam menyatakan beberapa nabi dan wali turut menyumbang kepada Zabur. Walau bagaimanapun, Zabur ditujukan kepada Daud berbanding yang lain. Beberapa yang terdapat dalam sumbangan kepada Zabur ialah Musa, Uzair, Sulaiman, Ethan, Haman, dan Asaph. Kebanyakan bab menyatakan siapa yang menulis di permulaannya. Zabur mengandungi 150 bab atau lagu yang dipecahkan kepada lima bahagian :

·         Bahagian pertama -- bab 1 hingga 41
·         Bahagian kedua -- bab 42 hingga 72
·         Bahagian ketiga -- bab 73 hingga 89
·         Bahagian keempat -- bab 90 hingga 106
·         Bahagian kelima -- bab 107 hingga 150

Zabur menurut hadis
Satu hadith dari sahih Bukhari, mengatakan: Daripada Abu Hurairah r.a., Rasulullah bersabda,
"Pembacaan Zabur dimudahkan bagi Daud. Dia sering mengarahkan agar binatang tunggangannya diletakkan pelana, dan mampu menghabiskan bacaan Zabur sebelum pelana siap diletakkan. Dan dia tidak akan makan tetapi hasil dari kerjanya sendiri."


INJIL


Kitab Injil merupakan salah satu daripada empat buah kitab Islam. Kitab ini mengandungi wahyu Allah Taala kepada Nabi Isa a.s. Ia diturunkan khusus untuk umat Nabi Isa a.s. Kitab Injil merupakan kesinambungan kitab-kitab Nabi Allah yang terdahulu iaitu Zabur dan Taurat. Kitab Injil kemudian diikuti dengan penurunan kitab suci yang terakhir iaitu Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad s.a.w, sebagai pelengkap kepada semua kitab-kitab suci yang sebelumnya. Dengan turunnya Al-Quran, secara tidak langsung semua ajaran kitab-kitab yang terdahulu termansuh dengan sendirinya.

Al-Quran menyatakan bahawa Injil dan Taurat telah ditahrif (diubahsuai iaitu ditokok tambah dan dikurangi) oleh penganut-penganutnya yang menyeleweng selepas Nabi Isa diangkat ke langit.
Bagaimanapun orang Islam dilarang mempertikai Injil kerana tidak diketahui bahagian mana adalah bahagian asal. Di dalam buku Injil Khatolik terdapat lebih banyak buku berbanding yang digunakan oleh Protesten.
Di dalam surah al-Maidah, ayat 13 - 14, Allah Taala berfirman yang bermaksud : (dipetik dari Tafsir Pimpinan Ar-Rahman Kepada Pengertian Al-Qur'an terbitan Bahagian Hal Ehwal; Islam, Jabatan Perdana Menteri, Malaysia)
13. "Maka dengan sebab mereka mencabuli perjanjian setia mereka, Kami laknatkan mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membantu (tidak mahu menerima kebenaran). Mereka sentiasa mengubah Kalimah-kalimah (yang ada di dalam kitab Taurat dengan memutarnya) dari tempat-tempatnya (dan maksudnya) yang sebenar, dan mereka melupakan (meninggalkan) sebahagian dari apa yang diperingatkan mereka dengannya. Dan engkau (wahai Muhammad) sentiasa dapat melihat perbuatan kianat yang mereka lakukan, kecuali sedikit dari mereka (yang tidak berlaku kianat). Oleh itu, maaflah mereka (jika mereka sedia bertaubat) dan janganlah dihiraukan, kerana sesungguhnya Allah suka kepada orang-orang yang berusaha supaya baik amalannya."

14."Dan di antara orang-orang yang berkata : Bahawa kami ini orang-orang Nasrani, Kami (tuhan) juga telah mengambil perjanjian setia mereka, maka mereka juga melupakan (meninggalkan) sebahagian dari apa yang diperingatkan mereka dengannya, lalu Kami tanamkan perasaan permusuhan dan kebencian di antara mereka, sampai ke hari Kiamat; dan Allah akan memberitahu mereka dengan apa yang telah mereka kerjakan."
  • Di dalam Surah Ali 'Imran ayat ke 3 dan ke 4 (dipetik dari Tafsir Pimpinan Ar-Rahman Kepada Pengertian Al-Qur'an terbitan Bahagian Hal Ehwal; Islam, Jabatan Perdana Menteri, Malaysia)
3. "Dia menurunkan kepadamu (wahai Muhammad) Kitab suci (Al-Qur'an) dengan mengandungi kebenaran, yang mengesahkan isi Kitab-kitab suci yang telah diturunkan dahulu daripadanya, dan Dia juga yang menurunkan Kitab-kitab Taurat dan Injil".
4. Sebelum (Al-Qur'an diturunkan), menjadi petunjuk bagi umat manusia. Dan Dia juga yang menurunkan Al-Furqaan (yang membezakan antara yang benar dengan yang salah). Sesungguhnya orang-orang yang kufur ingkar akan ayat-ayat keterangan Allah itu, bagi mereka azab seksa yang amat berat. Dan (ingatlah), Allah Maha Kuasa, lagi berhak membalas dengan azab seksa (kepada golongan yang bersalah).
  • Surah Al-Maa’idah 5:46 "...Dan Kami utuskan Nabi Isa Ibni Mariam mengikuti jejak langkah mereka (Nabi-nabi Bani Israil), untuk membenarkan Kitab Taurat yang diturunkan sebelumnya dan Kami telah berikan kepadanya Kitab Injil, yang mengandungi petunjuk hidayat dan cahaya yang menerangi, sambil mengesahkan benarnya apa yang telah ada di hadapannya dari Kitab Taurat, serta menjadi petunjuk dan nasihat pengajaran bagi orang-orang yang (hendak) bertakwa".
  • Surah Al-Hadid 57:27 "...Kemudian Kami iringi sesudah mereka: Rasul-rasul Kami silih berganti dan Kami iringi lagi dengan Nabi Isa Ibni Mariam, serta Kami berikan kepadanya: Kitab Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutnya perasaan belas kasihan (sesama sendiri). Dan (perbuatan mereka beribadat secara)"Rahbaniyah" (iaitu seperti bertapa di tempat-tempat yang terpencil, mengharamkan dirinya daripada berkahwin dan menjauhi kemewahan hidup)- merekalah sahaja yang mengadakan dan mereka(mencipta)nya; Kami tidak mewajibkannya atas mereka; (mereka berbuat demikian) kerana mencari keredhaan Allah; dalam pada itu mereka tidak menjaga dan memeliharanya menurut yang sewajibnya ..."
Namun begitu, Al-Qur'an menyebut nama-nama kitab yang terdahulu dan kandungannya yang berupa ajaran kepada umat pada waktu tersebut, sebagai tanda kewajiban umat Islam mempercayai "kewujudannya" dan bukan sebagai ikutan , iaitu selepas turunnya Al-Qur'an. Sebagaimana ayat 3 dan 4 dalam Surah Ali 'Imran seperti yang tertulis di atas.

Perkataan "Injil" dalam al-Qur'an
Perkataan "Injil" muncul di dalam al-Qur'an iaitu pada (III, 2, 43, 58; V, 50, 51, 70, 72, 110; VII, 156; IX, 112; XLVIII, 29; LVII, 27.
Perkataan "Injil" di dalam al-Quran tidak merujuk kepada Kitab Bible kini yang dimiliki dan dibaca oleh penganut-penganut agama Kristian, ataupun keempat-empat Gospel. Perkataan "Injil" yang digunakan dalam Al-Qur'an, Hadith, dan dokumen-dokumen Islam yang awal merujuk khas kepada wahyu Allah kepada Nabi Isa a.s, dan tidak merujuk kepada "Bible" yang dipegang oleh agama Kristian masa kini.
Di dalam al-Quran, dengan jelas menyatakan bahawa manusia telah mentahrif (mengubah, iaitu menokok-tambah dan mengurangi) sebahagian kitab Injil, khususnya rujukan-rujukan yang mengatakan bahawa Nabi Isa anak tuhan oleh pengikut-pengikutnya, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi selepas Nabi Isa diangkat ke langit.

Berdasarkan ajaran Islam, Nabi Isa tidak meninggal dunia sewaktu disalibkan dan kemudian dihidupkan semula (seperti yang dikatakan dalam kitab Bible). Umat Islam meyakini bahawa Nabi Isa a.s telah diangkat naik ke langit oleh Allah Taala (beliau tidak pernah disalibkan) dan akan turun kembali di akhir zaman sebagai umat Nabi Muhammad s.a.w.