Tampilkan postingan dengan label Uang Palsu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Uang Palsu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juli 2013

Polda Jatim bongkar sindikat pengedar uang palsu

Barang bukti uang palsu yang disita petugas dari pelaku.
Subdit III Jatanras, Ditreskrimum Polda Jawa Timur membongkar jaringan pengedar juta-an uang palsu (upal) di kawasan Terminal Bungurasih, Sidoarjo, Jawa Timur. Kabid Humas Polda Jatim AKBP Awi Setiyono mengatakan, upal yang disita petugas dari tangan tersangka adalah pecahan Rp 100 ribu sebanyak 120 lembar.

"Total jumlah yang disita sekitar 12 juta," kata Awi di Mapolda Jawa Timur, Kamis (20/6).

Kronologis penangkapannya, kata Awi, di dekat Terminal Bungurasih, polisi berhasil mengamankan tersangka berinisial RAP, karena kedapatan membawa pecahan Rp 100 ribu dengan total nominal Rp 12 juta. "Tersangka tertangkap saat hendak melakukan transaksi jual beli upal, kepada seseorang," lanjut dia.

Jutaan upal tersebut, didapat oleh tersangka dengan cara membeli kepada teman tersangka, yaitu Saleh asal Jakarta. "Perbandingan transaksi itu satu lembar Rp 100 ribu asli, ditukar dengan tiga lembar Rp 100 ribu (Rp 300 ribu) uang palsu."

Kepada petugas, tersangka RAP mengaku, memiliki Rp 15 juta uang palsu. Dan Rp 3 juta dari jumlah total upal tersebut, sudah dibelanjakan di Jakarta untuk membeli kebutuhan pribadi. "Jadi sisanya, Rp 12 juta (upal) yang bisa kami sita dari tangan tersangka," papar dia lagi.

Sementara dari hasil pemeriksaan petugas dari tersangka, penyidik juga berhasil membekuk AAB alias Saleh saat turun dari kereta api di Stasiun Pasar Turi, Surabaya.

Petugas lalu mengamankan Rp 27,5 juta upal di Jalan Sawo Jajar, Malang, dengan rincian 275 lembar pecahan Rp 100 ribu. "Pelaku yang diamankan di Malang ini adalah, BA alias KH dan DA," tandas Awi.

Penipuan, setor Rp 154 juta dapat sekoper uang palsu

uang palsu 1 miliar.
Apes benar nasib Rahmansyah Nur Ahmad (53). Berniat mencari pinjaman modal usaha malah menjadi korban penipuan. Pengusaha kelapa sawit itu, tertipu hingga ratusan juta rupiah.

Dari kerabatnya, dia mendapat informasi jika ada bos besar yang katanya bisa meminjamkan uang dengan jumlah besar. Korban pun berniat mencari dana Rp 5 miliar.

Mendengar informasi itu, Rahman pun berangkat ke Jakarta. Setelah tiba, dia langsung menghubungi M orang yang disebut-sebut sebagai penghubung dengan bos besar. Berikutnya dia benar dipertemukan dengan bos yang dijanjikan itu.

Namun, si bos mematok syarat. Rahman harus memberikan uang administrasi sebesar Rp 154 juta di Taman Mini, Jakarta Timur. Akhirnya mereka bertransaksi di samping Bank BNI cabang Taman Mini.

"Saat bertemu, korban disuruh masuk ke dalam mobil Avanza hitam dan memberikan uang administrasi yang diminta pelaku," ujar Kapolres Jakarta Timur, Kombes Pol Mulyadi Kaharni di pelataran Mapolsek Pulogadung, Jakarta Timur, Jumat (5/7).

Setelah bertransaksi, pelaku lain berinisial S memberikan koper yang diakuinya berisi uang sebesar Rp 10 miliar. Tanpa menghitung dan memeriksa uang yang diberikan, korban langsung mempercayai pelaku.

Setelah itu, Rahman berniat menyetorkan uang pinjaman tersebut ke Bank BNI terdekat, tak disangka isinya ternyata berisi uang mainan.

"Jadi di dalam koper tersebut berisi 10 bundelan uang. Satu bundelan berisi 10 ikat uang pecahan Rp 100 juta, jadi isinya Rp 1 miliar, tapi hanya bagian atas bundelan yang uang asli, yang dibawahnya hanya uang mainan palsu dan potongan kertas putih," terang Mulyadi.

Sudah terjerat tipuan manis para pelaku, korban langsung melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Ciracas. Dari informasi yang diberikan korban, polisi berhasil menangkap seorang pelaku yakni M, yang berperan sebagai penghubung antara pelaku lain dengan korban.

"Dua orang lagi masih DPO, masih kami kembangkan kasus ini dari keterangan saksi dan korban," ujar Mulyadi.

Rp 139 miliar uang palsu beredar di Jawa Barat

1 miliar uang palsu.
Diperkirakan sebanyak Rp 139 miliar uang palsu beredar di Jawa Barat pada semester pertama 2013. Jumlah itu beredar sekitar 2.219 lembar perbulannya. Paling banyak uang yang beredar nominal Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu.

"Ada sekitar Rp 139 miliar uang palsu yang beredar pada 2013 ini," kata Kepala Divisi Sistem Pembayaran Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VI, M Gani Aziz, pada pembukaan Layanan Penukaran Uang Terpadu di Lapangan Gasibu, Bandung, Kamis (11/7).

Meski terbilang banyak, peredaran uang palsu yang diidentifikasi pihaknya jauh berkurang dibanding 2012 lalu. Saat itu nilai upal dalam satu semester mencapai Rp 219 miliar dengan jumlah upal rata-rata sebanyak 2.758 lebar perbulannya.

"Memang jelang Lebaran ini selalu meningkat, tapi tahun ini berkurang," ujarnya.

Untuk menekan adanya peredaran uang palsu pihaknya menggelar program uang bersih terhitung 13 Juni-5 Juli 2013. Kegiatan itu digelar di seluruh daerah Bandung sebanyak 6 kali dan luar Bandung sebanyak 7 kali.

"Dari program ini uang lusuh kita tukar agar lebih segar, kalau uang segar mendeteksi uang palsu lebih mudah," paparnya.

Dia menambahkan, dengan adanya kegiatan program uang bersih pihaknya berhasil menarik uang di masyarakat sebanyak Rp 8,6 miliar.

Polda Metro: Pencetak uang palsu jelang Lebaran masih amatir

uang palsu 1 miliar.
Polisi memperkirakan pelaku pencetak dan juga pengedar uang palsu yang marak terjadi selama Ramadan dan jelang Idul Fitri merupakan pemain dari kelompok kecil. Para pelaku diperkirakan masih amatir. Hal tersebut dapat dilihat dari kualitas uang palsu yang didapat polisi dari para pelaku.

"Sampai saat ini rata rata yang didapatkan kasusnya tidak ada lagi dalam hal pencetakan secara profesional," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (17/7).

Rikwanto menambahkan, uang palsu yang disita petugas dari para pelaku mudah rusak dan kualitasnya tidak bagus. Para pelaku juga biasanya tidak membutuhkan modal yang besar dalam memproduksi uang palsu.

Menurutnya, para pelaku masih amatir. Sebab, pengedar uang palsu yang profesional memiliki alat khusus untuk memproduksi dalam jumlah besar namun kualitasnya menyerupai uang asli.

"Kalau yang ada saat ini, mereka hanya menggunakan scanner atau foto kopi warna sehingga mirip asli. Kalau kertas cepat rusak. Kalau diamati jelas ini tidak asli," pungkasnya.

Jelang lebaran, polisi imbau pedagang waspada uang palsu

uang palsu 1 miliar.
Memasuki bulan Ramadan dan menjelang hari raya Idul Fitri, kepolisian mengimbau kepada para pedagang kecil agar berhati-hati terhadap maraknya peredaran uang palsu. Fenomena tersebut merupakan peristiwa musiman yang kerap terjadi tiap tahun.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto menjelaskan maraknya peredaran uang palsu terjadi lantaran aktivitas perekonomian masyarakat meningkat saat bulan Ramadan dan menjelang Idul Fitri.

"Kepada para pedagang diminta meningkatkan kewaspadaannya saat menerima uang dari pembeli," ujar Rikwanto, saat ditemui di kantornya, Jakarta, Rabu (17/7).

Pasalnya, lanjut Rikwanto, peningkatan aktivitas jual beli yang terjadi biasanya menyebabkan para pedagang kurang memperhatikan uang yang diterimanya.

"Aktivitas padat juga membuat pedagang tidak memperhatikan lagi uang yang diterima. Itu yang kemudian dimanfaatkan oleh pelaku," terangnya.

Di samping itu, keterbatasan alat yang dimiliki pedagang kecil juga membuka peluang bagi sejumlah oknum yang berbelanja dengan menggunakan uang palsu.

"Karena umumnya pedagang kecil di pinggiran tidak mempunyai ultraviolet untuk memastikan keaslian uang. Dan biasanya buru-buru untuk melayani konsumen," paparnya.

"Kita imbau masyarakat agar menghadapi lebaran mengantisipasi uang palsu yang beredar. Masyarakat juga harus waspada dan tidak terkecoh. Kalau melihat mendengar mengetahui, segera laporkan ke polisi agar tidak beredar terlalu jauh," pungkasnya.

Awas peredaran uang palsu jelang Lebaran

ilustrasi.
Jelang Hari Raya Idul Fitri masyarakat diminta waspada dengan peredaran uang palsu yang dilakukan pihak-pihak tak bertanggung jawab. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat beramai-ramai akan menukarkan uang untuk dibagikan saat Lebaran.

Kapolsek Pasar Minggu Kompol Adri Desas Furyanto membongkar sindikat pengedar uang palsu. Dalam operasi itu ditemukan uang palsu pecahan lima puluh ribu senilai Rp 700 ribu. Seorang pelaku bernama Iwan Setiawan (32) diamankan.

"Petugas mengetahui peredaran uang palsu tersebut dari saksi S (37) yang merupakan seorang pedagang di Pasar Inpres Pasar Minggu," ujar Adri, Rabu (17/7).

Adri menjelaskan, saat kejadian terdapat seorang pembeli yang hendak membeli barang elektronik di toko milik saksi S.

"Namun, setelah dikroscek uang yang digunakan pembeli tersebut rupanya palsu dan pembeli tersebut tidak mengetahui bahwa uang yang digunakannya adalah palsu," tutur Adri.

Kejadian tersebut pun dilaporkan ke kantor polisi setempat. "Petugas langsung menelusuri dan mengamankan pelaku," ucapnya.

Menurut keterangan sementara dari pelaku, dirinya mengedarkan uang palsu melalui orang lain. Hingga saat ini petugas masih mendalami asal uang palsu tersebut.

Polisi bekuk dua pengedar upal di Tangerang

Ilustrasi uang palsu
Dua pengedar uang palsu (upal), Solatin (35) dan Boni Januardi (40), diringkus tim buru sergap Polsek Pamulang, Kota Tangerang Selatan.

Dari tangan dua pria tersebut, polisi berhasil menyita barang bukti uang imitasi Rp 3,4 juta pecahan Rp 50 ribu dengan 13 lembar dan sisanya Rp 100 ribu siap edar.

Perbedaan upal milik keduanya, dengan yang asli dapat dilihat dengan kasat mata. Dari garis lebih kelihatan, warna lebih gelap dan permukaan kasar.

Penangkapan itu berawal dari laporan warga yang datang ke Mapolsek Pamulang. Warga curiga lantaran uang yang didapat dari tersangka Boni, permukaannya lebih kasar.

Setelah menerima laporan tersebut, anggota Polsek menyamar hendak menukarkan uang asli dengan upal dengan perbandingan dua banding satu. "Artinya, dua pecahan upal dibayar satu uang asli," ujar Kapolsek Pamulang, Kompol M. Nasir , Kamis (18/7).

Ketika ditanya petugas polisi, kedua tersangka mengaku mendapat upal dari rekannya di daerah Kemayoran, Jakarta.

"Tersangka mengaku baru tiga bulan menjalankan aksinya. Dengan alasan kebutuhan ekonomi menjelang lebaran," terangnya.

Namun, polisi tidak percaya begitu saja, dan melakukan pendalaman kasus asal upal yang didapat pelaku. "Target pelaku biasanya, upal dibelanjakan di warung-warung kecil," katanya.