Tampilkan postingan dengan label Napi Kabur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Napi Kabur. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Juli 2013

18 Napi provokator rusuh Tanjung Gusta dipindah ke Nusakambangan

Teroris LP Tanjung Gusta.
Sebanyak 118 narapidana dipindahkan dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas I Tanjung Gusta, Medan Sumatera Utara dipindahkan ke sejumlah Lapas di Sumut dan Nusakambangan, Rabu (31/7) dinihari. Mereka ditengarai sebagai provokator dan terlibat dalam kerusuhan di penjara itu belum lama ini.

Dari 118 napi, 100 orang dipindahkan ke sejumlah Lapas di Sumut. Sementara itu 18 lainnya dipindahkan ke Lapas di Nusakambangan, 4 di antaranya merupakan terpidana kasus terorisme.

"Kami melihat mereka begitu (sebagai provokator). Jumlahnya bisa saja bertambah, tergantung hasil operasi yang dilakukan, jika masih ada orang-orang yang terindikasi sebagai provokator. Bisa dilihat dari perilaku mereka, seperti melempar dan teriak-teriak," kata Pelaksana Harian Dirjen Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Bambang Krisbanu kepada wartawan di Lapas Tanjung Gusta, Rabu (31/7) pagi.

Dari 100 napi yang dipindahkan ke Lapas di Sumut, 20 orang akan dipindah ke Lapas Pematangsiantar, 20 orang ke Lapas Tebingtinggi, 20 orang ke Lapas Binjai, 20 ke Lapas Sibolga, 10 ke Lapas Siborong-borong, dan 10 ke Lapas Sidikalang.

Pemindahan dilakukan petugas Lapas dikawal aparat TNI dan Polri. Mereka mengeluarkan napi dari Lapas dan mendatanya sebelum dimasukkan ke mobil tahanan yang akan membawanya ke Lapas tujuan.

Bambang memaparkan pemindahan ini sudah menjadi prosedur di setiap penjara jika terjadi kerusuhan. Kebijakan ini untuk mengantisipasi napi kembali menguasai Lapas.

"Penjara, di mana pun, termasuk di luar negeri, kalau terjadi kerusuhan, maka tindak lanjut pascakerusuhan adalah memindahkan mereka yang dianggap sebagai provokator. Sebab kalau tidak, maka dalam waktu yang cukup lama penjara ini akan mereka kuasai. Kalau sampai itu terjadi, kegiatan pelayanan kami kepada mereka akan sangat terganggu, bahkan mungkin lumpuh sama sekali," tegasnya.

Seperti diberitakan, kerusuhan di Lapas Tanjung Gusta pada Kamis (11/7) petang hingga Jumat (12/7) dinihari menyebabkan, kantor, klinik dan ruang berkunjung di Lapas terbakar. Lima orang tewas terpanggang dalam kejadian ini, yaitu 2 pegawai Lapas dan 3 napi.

Kerusuhan juga menyebabkan 212 napi melarikan diri. Hingga saat ini masih 109 di antara 212 napi itu yang telah ditangkap kembali atau menyerahkan diri. Sebanyak 103 lainnya, termasuk 4 terpidana kasus terorisme, masih dalam pengejaran.

Rabu, 17 Juli 2013

TNI bantu tangkap tahanan Lapas Tanjung Gusta yang kabur

Lapas Tanjung Gusta.
Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono siap membantu Kemenkum HAM untuk menjaga Lapas Tanjung Gusta. Untuk itu pihaknya akan berkoordinasi dengan Kemenkum HAM untuk membahasnya.

"Tentu kita akan bicarakan dengan Kementerian Hukum dan HAM, tapi saya kira kan model penjagaan itu kan ada bermacam-macam, tidak meski dari tenaga manusia tapi dengan peralatan, CCTV, dan sebagainya, itu bisa membantu penjagaan. Manakala dibutuhkan kehadiran personel yang lebih, baru nanti dibantu oleh TNI. Jadi pada prinsipnya ada pada Kementerian Hukum dan HAM," kata Agus hadir dalam Rapat Kerja Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Kamis (18/7).

Meskipun demikian dirinya mengaku sudah secara langsung membantu pihak kepolisian untuk mengawasi Lingkungan di sekitar Lapas Tanjung Gusta dan lingkungan tempat masing-masing.

"Berkaitan dengan kaburnya napi, kita TNI membantu kepolisian, seluruh aparat TNI di Kodim dan Babinsa, mereka kita tugaskan untuk mengawasi lingkungannya masing-masing," ujarnya.

Dia memerintahkan kepada anggota TNI jika ditemukan orang asing yang bukan turis maka harus melapor pada polisi.

"Manakala ditemukan orang asing, dalam arti orang yang tidak biasa di daerah itu (Bukan turis), segera dikoordinasikan kepada aparat kepolisian. Dicek, apakah mereka bagian dari anggota yang lari dari lapas itu," tutupnya.

Selasa, 16 Juli 2013

Petugas bekerja di bawah tenda di halaman LP Tanjung Gusta

Petugas di lapas Tanjung Gusta Medan.
Lima hari pascakerusuhan di Lapas Tanjung Gusta, Selasa (16/7) petugas administrasi di penjara itu terpaksa bertugas di halaman. Mereka bekerja di bawah pohon dan tenda yang disiapkan.

Pantauan merdeka.com, Selasa (16/7) para petugas bekerja menggunakan sejumlah laptop dan printer. Sebagian lainnya sibuk mencatat dan menabulasi napi yang masih ada dalam penjara.

"Ini kami masih mendata, kami masih menabulasi warga binaan," kata seorang pegawai perempuan yang enggan disebutkan namanya..

Selain petugas Lapas Tanjung Gusta yang bekerja di bawah pohon dan di bawah tenda, aparat TNI masih berjaga di dalam halaman Lapas. Aparat kepolisian juga tampak di sana.

Kakanwil Kemenkum HAM Sumut Budi Sulaksana, keadaan yang bisa disebut darurat ini akan berlangsung hingga ruang kantor Lapas selesai diperbaiki. Ruangan itu sebelumnya habis terbakar dalam kerusuhan yang terjadi pada Kamis (11/7) petang hingga Jumat (12/7) dinihari. "Kita berharap diperbaiki secepatnya," sebut Budi.

Lapas Tanjung Gusta tunggak listrik karena DIPA cuma Rp 16 juta

LP Tanjung Gutsa pasca ricuh.
Pihak Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Sumut mengakui adanya tunggakan listrik di Lapas Tanjung Gusta. Kondisi ini terjadi, karena mereka hanya mendapat Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Rp 16 juta untuk listrik per bulan.

"DIPA listrik cuma Rp 16 juta per bulan, sementara rekening yang harus dibayar berkisar Rp 55 juta sampai Rp 60 juta, akibatnya menunggak. Kita tidak bisa melebihi plavon kita," kata Kakanwil Kemenkum HAM Sumut Budi Sulaksana di Lapas Tanjung Gusta, Selasa (16/7).

Dia memaparkan, jumlah tunggakan listrik di Lapas Tanjung Gusta berdasarkan dokumen ada di Kemenkum HAM berbeda dengan data yang dilansir pejabat PLN. "Kita sudah menghitung, bukan Rp 1,14 miliar, tapi dari Juli 2012 sampai Juni 2013, jumlahnya Rp 781.557.660. Angka itu tertera dalam surat pernyataan utang yang ditandatangani kedua belah pihak," papar Budi.

Menurutnya, masalah utang ini tidak menjadi persoalan, karena pasti dibayar. Terlebih kedua pihak merupakan instansi milik pemerintah.

Mengenai daya pemakaian listrik di Lapas Tanjung Gusta yang disebut PLN berelebihan, Budi menyatakan besarannya bisa saja ditambah. Penambahan itu akan mudah dilakukan, mengingat saat ini perbaikan sarana Lapas Tanjung Gusta sedang dilakukan.

"Tapi kadang-kadang, kita minta daya diperbesar enggak dikasih kok," ucapnya.

Dia juga meluruskan saat kerusuhan terjadi, listrik tidak hanya padam di Lapas Tanjung Gusta. Masyarakat di sekitarnya juga mengalami hal serupa, karena trafo di seberang lapas meledak, bukan pemutusan listrik karena tunggakan.

Soal tingginya pemakaian listrik di Lapas Tanjung Gusta, Budi menyatakan pihaknya sudah membuat surat ke BPKP dan PLN. Kedua lembaga ini diminta mengaudit penggunaan listrik di semua penjara yang ada di Sumut, terutama Lapas Tanjung Gusta.

"Dari hasil itu akan ketahuan di layaknya berapa? Kalau lebih, di mana kelebihannya, baru kita lakukan aksi, seperti razia, tunggu saja tanggal mainnya," papar Budi.

Sabtu, 13 Juli 2013

Tanjung Gusta Kondusif, Fasilitas Mulai Diperbaiki

Narapidana berada di balik jeruji tahanan dengan bangunan yang terbakar di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas I Tanjung Gusta, Medan, 12 Juli 2013. Lapas dibakar narapidana pada 11 Juli. Dua petugas dan tiga narapidana tewas serta 150 narapidana kabur, termasuk narapidana teroris.
Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto mengatakan bahwa situasi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tanjung Gusta, Medan, Sumatra Utara, telah kondusif dan rehabilitasi fasilitas yang rusak telah dimulai.
    
"Situasi yang ada di Tanjung Gusta sudah cukup baik dan kondusif, aparat maupun petugas berupaya merehabilitasi fasilitas-fasilitas yang ada," kata Menko Polhukam di Jakarta, Sabtu (13/7/2013).
    
Dalam keterangan persnya seusai mengikuti rapat terbatas mengenai kerusuhan di Lapas Tanjung Gusta yang menyebabkan kaburnya puluhan narapidana, Djoko mengatakan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah memberikan tujuh instruksi untuk pemulihan kondisi dan situasi.
    
"Terkait over-capacity di Lapas, diinstruksikan kepada Menteri Hukum dan HAM serta jajarannya untuk secepat mungkin merelokasi narapidana ke lapas-lapas lain, tidak harus di Medan," katanya.
    
Instruksi kedua, lanjut Djoko, adalah merehabilitasi fasilitas-fasilitas lapas, khususnya perkantoran dan infrastruktur.
   
"Tiga, menginstruksikan kepada Kapolri untuk menambah jumlah anggota Polri guna mendukung pengamanan di lapas tersebut," katanya.
    
Kemudian keempat, kata Djoko, meminta aparat terus mengejar sisa 118 narapidana yang masih berstatus buron.
   
Instruksi kelima, menurut Djoko, adalah perintah kepada Kapolri untuk membentuk tim investigasi mendalam terhadap kejadian kerusuhan di Tanjung Gusta. "Apakah memang murni ketidakpuasan para napi karena mati listrik atau ada unsur-unsur yang lain," katanya.
    
Keenam, kata Djoko, perintah kepada seluruh lapas untuk meningkatkan kewaspadaan terutama terkait infrastruktur dan kebutuhan dasar narapidana.
    
Instruksi terakhir, kata Menko Polhukam, adalah membuat aturan pelaksana dari Peraturan Pemerintah Nomor 99.
    
Kerusuhan yang terjadi di Lapas Tanjung Gusta disebutkan dipicu oleh ketidakpuasan narapidana akibat listrik dan air yang mati pada Kamis (11/7/2013) mulai jam 05.00 WIB hingga pecah keributan pada jam 17.30 WIB.
    
Lapas Tanjung Gusta berisi 2.599 narapidana sementara kapasitasnya hanya 1.054 narapidana. Dalam keributan tersebut dilaporkan 212 narapidana melarikan diri, namun hingga Sabtu (13/7/2013) pagi, 94 di antaranya telah tertangkap.
    
Di antara narapidana yang melarikan diri terdapat sembilan narapidana terorisme. Lima orang di antaranya berhasil ditangkap dan empat narapidana masih berstatus buronan.

94 Napi Tj Gusta Diringkus, 118 Orang Masih Buron

Narapidana berada di bangunan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas I Tanjung Gusta, Medan, yang hangus terbakar, 12 Juli 2013. Lapas dibakar narapidana pada 11 Juli. Dua petugas dan tiga narapidana tewas serta 150 narapidana kabur, termasuk narapidana teroris.
Sebanyak 118 orang narapidana dari Lembaga Pemasyarakatan Tanjung Gusta, Medan, Sumatera Utara, belum tertangkap kembali. Empat orang di antaranya adalah narapidana kasus terorisme.

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan HAM Djoko Suyanto menjelaskan Lapas Tanjung Gusta dihuni 2.599 narapidana padahal kapasitas lapas itu hanya 1.054 narapidana. Dari sebanyak itu, narapidana yang melarikan diri mencapai 212 orang.

"Tertangkap kembali ada 94 orang narapidana, dan 118 orang dalam pengejaran. Di antara yang lari lima orang napi teroris tertangkap dan empat orang masih dalam pengejaran," ucap Djoko dalam jumpa pers usai rapat terbatas di Landasan Udara Halim Perdanakusuma, Sabtu (13/7/2013).

Djoko menjelaskan penyebab kerusuhan yang terjadi di Lapas Tanjung Gusta pada Kamis (11/7/2013) lalu adalah mati listrik yang berdampak pada macetnya pasokan air bersih mulai dari pagi hingga sore hari.

"Hal ini menimbulkan keresahan dan kemarahan napi hingga melakukan tindakan pembakaran tersebut," ucap Djoko.

Djoko mengungkapkan, selain persoalan listrik dan air,para napi mengeluhkan adanya Peraturan Pemerintah nomor 99 tahun 2012 yang di dalamnya ada mengatur soal pembatasan remisi bagi narapidana kasus korupsi, narkoba, dan terorisme.

Namun Djoko menjelaskan Menteri Hukum dan HAM sudah menjelaskan kepada mereka bahwa semangat dari PP tersebut adalah untuk memberikan efek jera.

Seperti diketahui, ratusan narapidana dan tahanan melarikan diri dari Lapas Tanjung Gusta, Medan, Kamis (11/7/2013) petang. Peristiwa ini bermula saat pasokan listrik dan air ke lapas itu terhenti.

Para napi kemudian melakuan provokasi hingga timbul kerusuhan di dalam lapas yang akhirnya berujung pembakaran di beberapa titik lapas.

Saat situasi kacau inilah, ratusan warga binaan itu menggunakan kesempatan kabur dengan sebelumnya menyandera 15 petugas lapas.

Lima orang tewas dalam kerusuhan itu. Kerusuhan juga akhirnya menyebabkan kerusakan parah pada bangunan Lapas.

127 Napi Tanjung Gusta Masih Kabur

Kantor Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas I Tanjung Gusta, Medan, terbakar, Kamis (11/7/2013) malam. Lapas diduga dibakar sekelompok narapidana akibat adanya pemadaman listrik dan matinya air PDAM dalam Lapas. Diduga sekitar 300 napi berhasil kabur akibat kebakaran tersebut.
Dari 212 narapidana yang melarikan diri saat  kerusuhan di Lembaga Pemasyarakatan Tanjung Gusta, Medan, Kamis lalu, baru 85 orang yang berhasil diamankan aparat kepolisian dan pihak lapas.  Sisanya, sebanyak 127 orang, termasuk empat orang napi terkait kasus terorisme, masih kabur

Kepala Bagian Penerangan Satuan Divisi Humas Polri Kombes Pol Rana S Permana, di Jakarta, Sabtu (13/7/2013), mengatakan, dari 85 napi yang berhasil diamankan, 72 orang di antaranya ditangkap Polri, sembilan orang menyerahkan diri, dan empat sisanya ditangkap oleh petugas lapas.

"Berdasarkan apel terakhir yang dilakukan Lapas Tanjung Gusta dan Polresta Medan, dari 212 narapidana yang melarikan diri, 85 orang telah berhasil diamankan," kata Rana.

Ia menjelaskan, dari 72 narapidana yang diamankan Polri, sebanyak 24 orang ditangkap pihak Polresta Medan, 41 orang ditangkap Polresta Belawan, dan lima orang ditangkap Polresta Langkat. "Sisanya masing-masing Polresta Siantar dan Polresta Aceh Timur satu orang," katanya.

Dari 85 orang yang diamankan itu, lima orang merupakan narapidana kasus terorisme, 34 narapidana kasus tindak pidana umum, dan 46 narapidana kasus narkoba.

"Untuk narapidana kasus terorisme, sebenarnya ada 14 orang. Lima orang masih ada di lapas, sembilan orang melarikan diri. Dari sembilan itu, lima orang sudah berhasil ditangkap, sisanya empat orang masih dalam pengejaran," jelasnya.

Rana mengungkapkan, pihak kepolisian beserta TNI dan Lapas Tanjung Gusta masih terus berkoordinasi untuk melakukan penangkapan terhadap narapidana yang masih melarikan diri. Sejumlah langkah dipersiapkan, mulai dari pendataan narapidana, penyebaran informasi, hingga akan merilis foto narapidana yang masih kabur. "Foto-foto akan dibuat agar masyarakat bisa turut membantu melakukan proses penangkapan," ujarnya.

Kericuhan di Lapas Tanjung Gusta pada Kamis lalu bermula saat pasokan listrik dan air di lapas terhenti. Para napi kemudian melakukan kekacauan yang berujung pada pembakaran bangunan lapas. Di saat situasi kacau inilah, ratusan warga binaan itu menggunakan kesempatan kabur setelah sebelumnya menyandera 15 petugas lapas.

Arswendo: Menangani Persoalan Napi Tidak Bisa Satu Kali

Kantor Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas I Tanjung Gusta, Medan, terbakar, Kamis (11/7/2013) malam. Lapas diduga dibakar sekelompok narapidana akibat adanya pemadaman listrik dan matinya air PDAM dalam Lapas. Diduga sekitar 300 napi berhasil kabur akibat kebakaran tersebut.
Menangani persoalan narapidana di dalam lembaga pemasyarakatan tidak dapat hanya dilakukan satu kali. Budaya kekerasan di dalam penjara kerap menjadi faktor pemicu terjadinya sejumlah insiden, seperti yang terjadi di LP Tanjung Gusta, Medan, beberapa waktu lalu.

Perlu pembinaan berkelanjutan yang diberikan pemerintah terhadap para warga binaan. "Menangani napi ini tidak bisa satu kali. Sekarang oke, tapi nanti belum tentu. Nanti bisa saja muncul lagi, muncul lagi," kata budayawan Arswendo Artowiloto dalam diskusi polemik dengan tema "Gelap Mata di Tanjung Gusta", di Rumah Makan Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (13/7/2013).

Menurut Arswendo, pemerintah harus sabar dalam menghadapi para narapidana. Sebab, menurutnya, narapidana memiliki andil dalam membentuk sebuah pemerintahan, yaitu pada saat pemilihan umum, baik legislatif maupun presiden.

"LP itu seperti usus buntu. Jika tak ada masalah tidak meletus, ada masalah baru meletus. Tapi, napi itu sewaktu-waktu bisa meletus," katanya.

"Jadi, sabar-sabarlah Pak Menteri (Menkum dan HAM Amir Syamsuddin) harus sabar-sabar. Tidak bisa dikerasin banget, dilonggarin juga tidak bisa," ujarnya.

Seperti diberitakan, kerusuhan di Lapas Tanjung Gusta pada Kamis (11/7/2013) bermula saat pasokan listrik dan air di lapas terhenti. Para napi kemudian melakukan provokasi hingga timbul kerusuhan di lapas yang akhirnya berujung pada pembakaran.

Di saat situasi kacau inilah, ratusan warga binaan itu menggunakan kesempatan kabur setelah sebelumnya menyandera 15 petugas lapas. Sekitar 176 napi melarikan diri, termasuk beberapa napi kasus terorisme. Kepolisian hingga saat ini masih melakukan pencarian ratusan napi yang kabur.

Presiden "Semprot" Menteri Terkait Lapas Tanjung Gusta dan Daging Sapi

SBY
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan kekecewaannya atas kinerja para menteri dalam mengatasi kerusuhan dan pembakaran di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Tanjung Gusta, Medan, dan kenaikan harga daging sapi. 

SBY pun "menyemprot" para menteri yang hadir dalam rapat terbatas di Landasan Udara Halim Perdanakusuma, Sabtu (13/7/2013). "Saya harus menyatakan permintaan maaf, hari Sabtu harus rapat. Terpaksa saya harus menyampaikan ketidaksenangan saya atas sejumlah isu dan saya sudah meminta maaf karena ini bulan puasa," ujar Presiden. 

Yang hadir dalam rapat itu ialah Wakil Presiden Boediono, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan HAM Djoko Suyanto, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, Kapolri Jenderal Timur Pradopo, Kepala Badan Intelijen Negera Marciano Norman, Kepala Badan Urusan Logistik Sutarto Alimuso, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsudin, Menteri Perindustrian MS Hidayat. Selain itu, hadir pula Menteri Pertanian Suswono, Sekretaris Kabinet Dipo Alam, dan Menteri Keuangan Chatib Basri. 

Setelah menyapa seluruh menteri yang hadir, Presiden langsung membahas pokok permasalahan dalam rapat. Dengan menggunakan kemeja lengan panjang warna biru, Presiden kemudian mengkritik kinerja para menteri. 

Terkait persoalan di Tanjun Gusta, Presiden mengkritik lamanya pemerintah dalam memberikan pernyataan resmi kepada publik. Presiden mengaku memantau pemberitaan sejumlah media massa, utamanya media internasional yang sudah mengangkat kasus ini. 

"Saya tunggu respons dan reaction time itu kurang cepat, daerah-pusat, Medan, dan kita. Sepuluh jam tanpa official statement itu tidak bagus," ucap Presiden. 

Sementara itu, terkait kenaikan harga daging sapi, Presiden mengaku dirinya sudah merasa tak sabar. "Terus terang, saya tidak sabar sama dengan tidak sabarnya rakyat. Mbulet," kata Presiden.

Kerugian Tanjung Gusta Capai Rp 55 Miliar

Kantor Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas I Tanjung Gusta, Medan, terbakar, Kamis (11/7/2013) malam. Lapas diduga dibakar sekelompok narapidana akibat adanya pemadaman listrik dan matinya air PDAM dalam Lapas. Diduga sekitar 300 napi berhasil kabur.
Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Sumatera Utara memperkirakan kerugian akibat kebakaran Lembaga Pemasyarakat Kelas I Tanjung Gusta Medan mencapai Rp 55 miliar.
    
"Perhitungan sementara mencapai Rp 55 miliar," kata Kepala Kanwil Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Sumut Budi Sulaksana di depan Lapas Tanjung Gusta Medan, Sabtu (13/7/2013).
    
Menurut Budi, nilai kerusakan tersebut mencapai Rp 55 miliar karena banyaknya benda-benda mahal yang ikut terbakar dalam peristiwa yang terjadi pada hari Kamis (11/7/2013) malam itu.
    
Ia mencontohkan seluruh peralatan media, obat-obatan, komputer, dan berbagai alat elektronik yang terdapat di bagian kantor Lapas Tanjung Gusta Medan. "Di bagian kantor, kerusakannya mencapai 100 persen," katanya.
    
Ia mengatakan bahwa pihaknya sedang memperbaiki kerusakan yang ada, mulai dari mengganti bangunan yang rusak, mengganti dokumen kemasyarakatan, hingga penyediaan berbagai peralatan elektronik dan medis.
    
Untuk pembangunan fisik, pihaknya berupaya untuk "ngebut" dan diperkirakan dapat diselesaikan selama dua minggu. Kemudian, hal yang terkait dengan dokumen kemasyarakatan, pihaknya akan mengambilnya dari database Kanwil Kemenkumham Sumut.
    
Dengan maksimalnya tingkat kerusakan tersebut, pihaknya meniadakan waktu kunjungan narapidana untuk sementara waktu.
    
Selain tidak ada ruangan untuk pertemuan keluarga dengan narapidana, juga disebabkan adanya kekhawatiran terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dalam kunjungan tersebut.
    
"Saat ini, kondisi berantakan. Khawatirnya nanti mereka terkena beling (pecahan kaca)," katanya.

Jumat, 12 Juli 2013

3 Masalah ini jadi penyebab kerusuhan di penjara

Lapas Tanjung Gusta.
Anggota Komisi III DPR Trimedya Panjaitan memaparkan ada tiga permasalahan dalam Lembaga Pemasyarakatan, yang belum dituntaskan sampai saat ini. Menurut dia, problem itu adalah faktor yang mempengaruhi adanya kerusuhan dalam penjara.

"Pertama soal kelebihan kapasitas. Negara belum dapat menyiapkan penjara memadai di tiap daerah," kata Trimedya dalam acara diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (13/7).

Lantas menurut Trimedya, problem kedua adalah masalah honor sipir dan anggaran lapas. Dia mengatakan, periode lalu DPR sudah berusaha menyelesaikan utang lauk pauk beberapa Lapas.

"Dulu utang itu puluhan miliar. Lalu uang jaga malam juga ditingkatkan. Bisa dibayangkan uang jaga malam itu sangat minim. Makanya kita naikkan dua kali lipat," ujar Trimedya.

Kemudian, Trimedya menegaskan, masalah ketiga adalah soal mental aparat. "Di penjara, kita tahu lah, ada slogan, 'Apapun bisa kalau ada uang.' Ini kan berbahaya. Kalau ada kemauan dari warga binaan dan mental aparat seperti itu, maka permasalahan tidak akan pernah selesai," lanjut Trimedya.

Menkum HAM tak tambah hukuman napi Tanjung Gusta yang kabur

kemenkumham.
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Amir Syamsuddin berjanji tidak bakal memberikan hukuman tambahan kepada para narapidana yang lari dari Lembaga Pemasyarakatan Tanjung Gusta, Kota Medan, Sumatera Utara. Amir mengatakan akan mencoba menekan penyebab kerusuhan di setiap lapas.

"Tidak ada alasan menghukum dua kali," kata Amir usai menghadiri diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (13/7).

Amir yakin memberikan hukuman tambahan bukan jaminan para narapidana itu jera. Selain itu, dia tidak mau memperberat penderitaan dialami narapidana.

Amir mengatakan, salah satu cara menekan gejolak sosial dalam penjara adalah dengan menyediakan informasi bagi narapidana.

"Saya akan lebih fokus menyampaikan info atau hal yang bisa meminimalisir potensi kerusuhan," ujar Amir.

Kamis, 11 Juli 2013

PLN Sanggup Suplai Genset di Lapas Tanjung Gusta

Petugas berjaga di depan Lapas Klas I Tanjung Gusta Medan yang terbakar akibat kerusuhan, Kamis.
PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menyatakan bahwa pemadaman listrik di Lembaga Pemasyarakatan Tanjung Gusta, Medan, juga diakibatkan kerusakan yang terjadi pada genset yang dimiliki lapas tersebut.

Manager Bidang Distribusi PLN Wilayah Sumut, Ahmad Hidayat Pane, saat dihubungi VIVAnews, Jumat 12 Juli 2013, mengatakan bahwa saat terjadi kerusuhan di lapas itu memang listrik sedang padam, karena adanya gangguan pada kabel trafo. Namun, sebelumnya kerusakan itu sudah dapat diperbaiki. 

"Jadi, listrik padam sejak Kamis pagi pukul 10.00 WIB, tetapi pukul 17.00 WIB, sudah hidup lagi. Namun, 20 menit kemudian ada gangguan lagi, hingga terjadinya kerusuhan," ujarnya.

Dia mengatakan, sebetulnya, bila pihak lapas siap dengan genset yang ada, pemadaman listrik di lembaga pemasyarakatan itu bisa teratasi. Namun, genset yang ada ternyata dalam kondisi rusak.

"Genset yang ada tidak bisa difungsikan. Jadi, usai kami perbaiki dan padam kembali, tidak ada back up dari genset," kata dia.

Untuk itu, dia membantah anggapan bahwa penyebab rusuh di lapas tersebut akibat adanya pemadaman listrik PLN. Lengkapnya, buka tautan ini.

Sementara itu, Bambang Dwiyanto, Manager Senior Komunikasi Korporat PLN menambahkan, semestinya pihak Lapas Tanjung Gusta segera menghubungi PLN untuk pengadaan genset.

"Kami dengan pihak lapas itu sering komunikasi. Kenapa, tidak menginformasikan kalau genset yang ada itu rusak," ujarnya kepada VIVAnews.

PLN, dia menambahkan, akan menyuplai genset jika pihak lapas memberikan informasi. Sebab, genset diperlukan sebagai cadangan bila terjadi pemadaman listrik ketika terjadi gangguan.

"Kalau memang terjadi pemadaman, kami minta maaf. Tapi, hal itu juga karena sesuatu hal yang tidak kami inginkan bersama," tegas Bambang. 

Direktur Utama PLN, Nur Pamudji, kepada VIVAnews menyatakan bahwa adanya tudingan pemadaman listrik PLN menjadi penyebab rusuh di lapas Tanjung Gusta, semuanya diserahkan kepada PLN Medan untuk menjawabnya.

"Silakan dapatkan penjelasan lengkapnya dari PLN Medan," tuturnya.

Buru Ratusan Napi Kabur, Razia Digelar di Seantero Sumut

Polisi menggelar razia di perbatasan Sumut-Aceh.
Polresta Medan terus memburu ratusan narapidana yang kabur dari Lembaga Pemasyarakatan Tanjung Gusta, Jumat 12 Juli 2013. Dari 200 napi yang diperkirakan kabur, 55 telah ditangkap lagi oleh petugas kepolisian.

“Untuk memburu mereka, razia digelar di berbagai wilayah Sumatera Utara dan daerah perbatasan. Ini untuk mengantisipasi arah pelarian mereka,” kata Kapolresta Medan, Komisaris Besar Polisi Nico Afinta Karo-karo. Di antara para napi yang kabur itu, belasan tercatat sebagai napi kasus terorisme.

Satu napi tertangkap di wilayah Aceh. Ia dibekuk ketika berada di bus menuju Bireun, dan untuk sementara ini ditahan di Mapolres Aceh Timur. Perbatasan Sumut-Aceh termasuk yang dijaga ketat aparat. Kendaraan yang melintas diperiksa polisi.

Sebanyak 55 napi yang berhasil ditangkap kembali kini dititipkan ke berbagai polres di Sumut seperti Polres Hamparan Perak, Helvetia, Binjai, Langkat, dan KPPP Belawan.

Ke-200 napi kabur dari LP Tanjung Gusta ketika LP tersebut dilanda kerusuhan. Ribuan narapidana yang menghuni LP itu mengamuk dan membakar LP karena listrik di LP mati seharian. Matinya listrik ini juga membuat mereka tidak punya suplai air bersih.

PKS: Napi Tanjung Gusta Kabur Karena Kemenkumham Zalim

Lembaga Pemasyarakatan Tanjung Gusta Medan terbakar
Anggota Komisi III Bidang Hukum Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Nasir Djamil, menilai bahwa kaburnya narapidana di Lapas Tanjung Gusta, Medan, akibat kekecewaan dan kebencian mereka kepada Kementerian Hukum dan HAM. Sebab, kata Nasir, mereka merasa Kementerian Hukum itu sudah menzalimi mereka dengan tak memberi remisi.

"Ini akumulasi kekecewaan dan kebencian mereka karena Kemenkumham sudah menjadi kementerian yang zalim," kata Nasir, Jumat 12 Juli 2013.

Narapidana yang seharusnya sudah bisa bebas, kata Nasir, terpaksa tetap mendekam karena adanya Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan yang mereduksi dan membuat mereka semakin menderita.

"Padahal pemidanaan tidak boleh dimaksud untuk menderitakan dan merendahkan harkat dan martabat manusia," kata dia.

PP tersebut, kata Nasir, telah melanggar hak asasi manusia. Untuk itu, Nasir berharap Kementerian Hukum dan HAM perlu mengevaluasi dan mengusulkan kepada pemerintah agar mencabut PP tersebut. "Jangan sampai kalau sudah meluas di seluruh LP, baru dicabut PP tersebut" ujar dia.

Meski dirinya setuju bahwa peraturan pemerintah tersebut memberikan efek jera tapi harus tetap mengacu kepada konstitusi. "Padahal visi Kemenkumham itu menjaga hak asasi manusia. Tapi justru ada pejabatnya yang melakukan sebaliknya," ujar dia.

Sementara, Anggota Komisi III lainnya, Nudirman Munir, meminta agar semua lapas untuk dipasang CCTV. Padahal, kata dia, anggaran untuk pemasangan CCTV sudah dianggarkan.

"Kenapa kok takut banget pasang kamera? Pasang di tiap LP. Seluruh LP tidak hanya narkoba," kata dia.

Sebelumnya, ribuan narapidana Lembaga Pemasyarakatan Tanjung Gusta, Medan, minta dipertemukan dengan Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana. Mereka ingin menyampaikan tuntutannya kepada sang Wamen.

Napi Tanjung Gusta memprotes Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 yang dianggap merugikan mereka. PP tersebut menyebutkan bahwa napi kasus korupsi, narkoba, dan terorisme tidak mendapatkan remisi, pun menjelang Hari Ulang Tahun RI.

Sebelum kerusuhan terjadi, para napi sudah pernah mempertanyakan dan memprotes PP tersebut. Mereka khawatir tidak mendapat remisi ketika 17 Agustus nanti.

Wakil Menteri Hukum dan HAM, Denny Indrayana menyatakan bahwa pengejaran terus dilakukan pada napi Tanjung Gusta, Medan, Sumatera Utara, yang kabur. Sementara itu aparat terus berusaha membuat kondisi lapas terkendali.

SBY Minta Kapolri Pulihkan Situasi LP Tanjung Gusta

Napi LP Tanjung Gusta usai kerusuhan.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan Kapolri Jenderal Polisi Timur Pradopo untuk segera memulihkan keamanan dan ketertiban di Lembaga Permasyarakatan Tanjung Gusta Medan, Sumatera Utara, Jumat 12 Juli 2013.

Sebelum bertolak ke Nusa Tenggara Barat untuk melakukan kunjungan kerja, SBY telah meminta Kapolri terus melaporkan perkembangan pascakerusuhan di LP yang dihuni 2.559 narapidana itu, termasuk belasan napi teroris yang melakukan aksi perampokan di Bank CIMB Niaga Medan tahun 2010.

Juru Bicara Presiden, Julian Aldrin Pasha, mengatakan Kementerian Hukum dan HAM telah menelusuri penyebab kerusuhan di LP Tanjung Gusta semalam. “Ada beberapa LP melampaui kapasitas (termasuk Tanjung Gusta). Sedang dicarikan solusi yang tepat agar tidak kelebihan kapasitas,” kata dia.

Julian belum dapat memastikan apakah penyebab utama kerusuhan yang menyebabkan 200 napi kabur itu karena minimnya fasilitas listrik dan air di LP Tanjung Gusta, atau karena sebab lain. “Masih ditelusuri dan dicari tahu,” ujarnya.

Presiden SBY juga memerintahkan Kapolri dan jajarannya untuk mengejar ratusan napi teroris yang kabur. “Napi lari tentu tidak akan kami biarkan. Akan dikejar tanpa melihat kasus atau siapa mereka. Ini masih dalam tahap pencarian, diupayakan segara dapat dikembalikan ke Lapas,” kata Julian.

Polresta Medan terus memburu 200 narapidana yang kabur dari LPTanjung Gusta. Dari 200 napi yang diperkirakan kabur, 55 orang telah ditangkap lagi oleh petugas kepolisian. Satu napi tertangkap di wilayah Aceh. Ia dibekuk di bus menuju Bireun, dan untuk sementara ini ditahan di Mapolres Aceh Timur.

Perbatasan Sumut-Aceh termasuk yang dijaga ketat aparat. Kendaraan yang melintas diperiksa polisi. Sebanyak 55 napi yang berhasil ditangkap kembali kini dititipkan ke berbagai polres di Sumut seperti Polres Hamparan Perak, Helvetia, Binjai, Langkat, dan KPPP Belawan.

Mediasi, 10 Napi Tanjung Gusta Dibawa Keluar Lapas

Sejumlah narapidana digiring masuk kedalam LP Tanjung Gusta, Medan oleh aparat Kepolisian dan TNI, Jumat 13 Juli 2013.
Sekitar 10 narapidana digiring keluar Lembaga Pemasyarakatan Tanjung Gusta, Medan, Sumatera Utara, Jumat 12 Juli 2013. Mereka dibawa ke Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara, atau disingkat Rupbasan.

Kantor Rupbasan berada tak jauh dari Lapas Tanjung Gusta. Sejumlah personil TNI tampak mengawal para napi. Di belakang rombongan ini tampak beberapa polisi ikut mengawal.

Diduga mereka akan mediasi untuk menuntaskan kerusuhan di lapas yang terjadi Kamis malam, 11 Juli 2013. Napi-napi yang dikawal tampak sudah berumur.

Sementara itu, ratusan warga sekitar tampak berkerumun di sekitar lapas. Mereka ingin tahu mengenai apa yang terjadi di lapas itu.

Beberapa bahkan ada yang nekat mendekati lapas. Saat dia dilempari para napi, warga itu kemudian mundur dan menjauh.

Diberitakan sebelumnya, kericuhan di lapas ini terjadi karena air dan listrik mati Kamis 11 Juli dari pukul 05.00 WIB subuh. Pada pukul 17.30 WIB, para napi berontak dan menjebol pintu utama serta membakar ruangan kantor.

Lima orang tewas dalam insiden kebakaran dan kerusuhan di Lapas Tanjung Gusta, Kamis kemarin. Mereka terbakar di ruang arsip. Selain itu, sekitar 200 narapidana kabur.

5 Korban Tewas Dievakusi dari LP Tanjung Gusta Medan

LP Tanjung Gusta yang dibakar narapidana.
Ribuan narapidana LP Tanjung Gusta, Medan, Jumat 12 Juli 2013, dinihari yang masih mengamuk akhirnya mengabulkan permintaan aparat keamanan untuk mengevakuasi korban tewas dari dalam LP.

Namun, para napi tidak mengizinkan jika polisi yang melakukan evakuasi. Mereka hanya memberi izin kepada personel TNI dan PMI. Mereka juga memaki-maki polisi.

"Kami persilakan hanya TNI dan PMI yang masuk ke dalam. Mudah-mudahan bapak-bapak semua menepati janji ini, silakan masuk," teriak beberapa napi dari jendela lapas.

Ada empat mayat diboyong petugas dari dalam lapas. Saat mengevakuasi, petugas dibantu napi menunjukkan di mana letak korban tewas saat kejadian berlangsung. "Yang pertama napi, yang kedua petugas penjara. Ini ada juga satu yang perempuan," kata beberapa napi yang ikut membantu evakuasi

Hingga pukul 04.00 WIB. Sudah ada 5 korban tewas berhasil di evakuasi oleh petugas. Korban pertama yang dievakuasi lebih dulu dalam perjalanan ke rumah sakit meninggal dunia.

Sebelumnya seorang pria digotong oleh personel kepolisian berseragam preman keluar dari dalam lapas Tanjung Gusta saat polisi berusaha mendekat ke pintu utama lapas sekitar pukul 01.45 WIB.

Meski mendapat serangan lemparan batu dari dalam, polisi berhasil mengangkut seorang pria yang kondisinya mengenaskan tersebut. Pria ini mengalami luka bakar dan ditemukan di dekat pintu keluar.

Belum diketahui identitasnya pria yang diangkut dalam keadaan telanjang dan mengalami luka bakar dan ditutupi dengan plastik oleh kepolisian. Polisi langsung memasukkannya ke dalam ambulans.

Informasi yang dihimpun VIVAnews dari beberapa petugas, diduga pria tersebut adalah petugas lapas. "Kayaknya itu petugas penjara, namanya Bonar. Tapi belum tahu juga, sekilas saya lihat seperti Bonar. Mudah-mudahan bukan dia," kata salah seorang sipir di luar lapas.

Pihak kepolisian menduga masih ada belasan petugas lapas yang terjebak di dalam lapas. Belum diketahui kabar para sipir penjara yang masih ada di dalam.

Rusuh di Penjara Tanjung Gusta, 200 Tahanan Kabur

Foto ilustrasi
Kerusuhan disertai pembakaran terjadi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas I Tanjung Gusta Medan, usai buka puasa malam tadi. Akibatnya, ratusan napi berhasil melarikan diri.

"Kebakaran diduga disebabkan pembakaran yang dilakukan para napi," kata Humas Dirjen Pemasyarakatan, Kemenhukan Akbar Hadi saat dihubungi melalui telepon genggamnya, Kamis 11 Juli2013.

Ia menjelaskan sejak sore tadi Listrik mati di Lapas. Pihak lapas sudah berkoordinasi dengan pihak PLN namun hingga waktu buka puasa listrik belum menyala. "Sekitar pukul 18.00 WIB. Muncul kobaran api. Api ini diduga akibat ulah napi yang melakukan pembakaran," katanya.

Saat api membesar dan kondisi mulai panik, sekitar 200 narapidana melarikan diri. Napi yang kabur ini bagian dari 2400 Napi yang ada dalam tahanan.

"Saat ini petugas sedang melakukan pendataan. Sementara baru 200 napi yang diperkirakan kabur," katanya.

Pantauan VIVAnews, saling lempar juga terlihat di halaman lapas. Puluhan pemadam yang berusaha memadamkan api mendapat serangan perlawanan dari tahanan di dalam lapas. "Kami memadamkan api dapat lemparan dari dalam," kata seorang petugas pemadam kebakaran.

Akbar menjelaskan keadaan sudah bisa dikendalikan petugas. "Api sudah mulai padam. Kita koordinasi dengan Brimob dan Polda Sumatra Utara untuk melakukan pengejaran," katanya.

Di lapas ini terdapat beberapa napi dalam kasus terorisme. Saat dikonfirmasi keberadaannya ia mengatakan belum tahu."Kita sedang data semua napi. Kita belum tahu siapa saja dan kasus apa saja yang melarikan diri," katanya.

Sementara itu kabareskrim Mabes Polri, Komjen, Sutaraman membenarkan peristiwa itu. "Kita sudah siapkan tim dan sedang bergerak melakukan pencarian," ujarnya di Mabes Polri.

Lapas Tanjung Gusta Dibakar, 15 Napi Teroris Ikut Kabur

Foto ilustrasi
Kerusuhan dan kebakaran usai buka puasa di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas I Tanjung Gusta Medan, membuat sedikitnya 200 napi berhasil kabur. Kepolisian mengatakan di antara yang kabur ada belasan napi kasus terorisme.

"Diperkirakan sekitar 200 orang melarikan diri, termasuk kemungkinan tahanan teroris 15 orang," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Pol. Boy Rafli Amar kepada VIVAnews, Kamis 11 Juli 2013.

Boy mengatakan kericuhan terjadi karena air dan listrik mati dari jam 5 subuh. Pada pukul 17.30, lanjutnya, para napi berontak dan menjebol pintu utama serta membakar ruangan kantor. "Jumlah tahanan Tanjung Gusta saat ini ada 2.599 orang," ujarnya.

Pantauan VIVAnews, saling lempar juga terlihat di halaman lapas. Puluhan pemadam yang berusaha memadamkan api mendapat serangan perlawanan dari tahanan di dalam lapas. "Kami memadamkan api dapat lemparan dari dalam. " Kata seorang petugas pemadam kebakaran.

Humas Dirjen Pemasyarakatan, Kemenhukham Akbar Hadi, mengatakan bahwa api sudah mulai dipadamkan. Tidak kurang 15 mobil pemadam diturunkan ke lokasi.

Pengejaran dilakukan dengan koordinasi Brimob dan Polda Sumatra Utara. Untuk mengamankan lokasi, Boy mengatakan sudah disiagakan ratusan personel gabungan. "Saat ini petugas polri gabungan TNI sudah berjaga sekitar 500 personel lebih," ujar Boy.